Petani tidak akan pernah Work From Home

Semua pikiran, emosi, berita dan juga diskursus tumpah pada satu hal yaitu covid-19. Setiap saat menjadi berita, ada yang menganggap remeh ada pula yang sampai pada titik parno (paranoid) yang cukup tinggi. Inilah zaman pandemi atau serangan wabah yang sudah mendunia. Tidak ada tempat untuk berlari, bukan karena tidak mampu tapi seluruh dunia mengalami hal yang sama.

Beberapa ahli dan juga obrolan warung kopi berteori ribuan, tentang mitigasi, tentang bagaimana menjalani kehidupan kedepan dan juga tentang harapan. Beberapa juga berteori dan bahkan ada yang memvonis diri bahwa dia kena convid-19 dan akhirnya bunuh diri (Solo).

Ditengah polarisasi antara harapan dan depresi ada yang tetap berjuang untuk kelangsungan hidupnya dan keluarganya. Tidak kurang dan tidak lebih hanya untuk hidup dan bekerja saja. Mereka adalah Petani, tokoh yang selalu dipaksa dibelakang layar karena kotor dan kita masih tiap hari makan apa yang mereka produksi.

Tokoh yang dipaksa selalu dibelakang layar dan dimarginalkan itu kini masih tetap bekerja untuk hidupnya, dan berproduksi untuk perut kita semua. Perut Indonesia, negeri yang konon agraris dan zamrud khatulistiwa sambil kita melupakan jasa Petani (apakah pikiran kita nasi yang kita makan adalah perkara keniscayaan atas besarnya iman kita? Berasnya siapa yang tanam?

Dan saat ini pandemi covid-19 memaksa semua untuk Work From Home dan tetap kebutuhan harus dipenuhi. Kita berteori kemudian tentang apa itu higienis, apa itu social distancing bahkan dunia sedang menutup diri dari semuanya termasuk hal yang dinamakan religi.

Pertanyaan sederhana, apakah kita rela dan mau jika petani juga ikut WFH? Mungkin akan jadi kiamat yang datang terlalu cepat untuk hal itu di pikiran kita. “Jangan dong, kita saja yang WFH tapi petani ya harus bertani untuk memenuhi kebutuhan pangan kita semua”

Tanpa kalian suruhpun petani tetap ke sawah dan ladangnya memelihara apa yang ditanam dan akhirnya kita santap disaat kita WFH. Disaat kita selalu tampil higienis, petani harus tetap kena lumpur dan kotoran. Panas dan hujan mereka harus tetap bekerja ke lapangan, untuk kita.

Jika krisis ini berkepanjangan, pernahkah terbersitt di otak kita semua bahwa apa yang kita makan akan habis karena dikeroyok 264 juta jiwa penduduk Indonesia. Pernahkah kita berfikir sejenak dengan sedikit kejernihan hati dan pikiran, ada nyawa yang tidak akan pernah bisa WFH dan Social Distancing karena kita semua.

Hadratussyekh Hasyim Asy’ari pernah berpesan, bahwa yang akan menyelamatkan Indonesia adalah petani. Dimana kita saat ini dengan semua kesibukan kita? Pernahkah kita berfikir tentang petani sebentar saja, dan apa yang akan kita lakukan untuk mereka yang menyangga hidup kita?

ISIS dicarikan dalil untuk pulang, kemana dalil kalian saat mereka gorok leher orang?

Supporter ISIS ini memang menjengkelkan, rata-rata adalah mereka yang terafiliasi sebagai so called budayawan dan aktivis HAM. Berjuang bersama PKS memperjuangkan kembalinya ISIS ke Indonesia dengan bermacam dalil yang memuakkan. Cluster pendukung pengembalian ISIS ini berisi 3 unsur: Aktivis, Partai dan Pemerintah.

Tidak perlu kajian yang dalam atau analisa ndakik-ndakik yang bikin pusing, ocehan mereka yang terafiliasi dalam gerakan HAM untuk ISIS ini sedang unjuk gigi. Modalnya wawancara dari stasiun TV yang cukup viral, narasinya adalah “mereka sudah tobat” “ayo beri mereka kesempatan” sampai yang paling bangke adalah “apa bedanya kalian dengan ISIS”.

Aktivis dan Budayawan kenapa tiba-tiba intens menyuarakan penegakan HAM atas ISIS? 2 hal yang menjadi jawaban: pertama dapat proyek dari anasir khilafah dan yang kedua caper. Kemudian partai, PKS yang terang benderang membandingkan Corona dan ISIS kenapa perlakuannya beda, murni ini sedang jualan dagangan dengan nilai yang sangat besar (dari Cina) dan belum ada tanda dibeli. Ketiga adalah Pemerintah: ini murni untuk stabilitas pemerintahan, kudu ada ribut biar ada kerjaan proxy proxy gitulah.

Masih ingat saat Anis Matta membuat sebuah puisi untuk Osama Bin Laden? Itu cara jualan khas Ikhwanul Muslimin, nyenggol isu sangat sensitif diatas hak atas kebebasan berpendapat. PKS adalah “libtard” sesungguhnya, apa itu libtard? Liberal Bastard, dandanannya kanan tapi otaknya selangkangan.

Coba silakan tracking 3 variabel tersebut, dimana suaranya saat ISIS menggorok kepala banyak orang di Irak dan beberapa bagian Negara yang dijadikan markas oleh ISIS. Adakah yang berteriak HAM atas kekejaman yang masif ditayangkan media saat itu? Adakah yang lantang bicara didepan mengutuk kekejaman mereka dalam usaha penegakan khilafah?

Pemerintah ya begitu-begitu saja, gagu saat ada upacara hari kemerdekaan ada pawai khilafah dan berkibar bendera HTI dimana-mana. Gagu karena butuh proxy supaya tetap eksis kelihatan kerja. Ingat saja, ketika urusan ISIS dijadikan momen untuk membuka proxy, yang didapatkan bukan eksistensi tapi nunggu hari saja kapan Indonesia jadi panggung gorok-gorokan leher dan potongan kepala menggelinding di jalanan dan pasar dengan darah amis dimana-mana.

Saya hanya berharap, jika ISIS dikembalikan ke Indonesia tolong diinapkan langsung ke mereka para budayawan, partisan dan pemerintah yang mendukung pemulangan mereka ke Indonesia. Jika perlu langsung ditindaklanjuti Dinas Dukcapil untuk update KK, masukin aja jadi bagian dari keluarga mereka.

Membosankan sekali isu (pemulangan ISIS) ini dan dibiarkan menjadi bola salju tanpa kendali, kita tunggu saja seberapa besar bola ini sampai Indonesia. Saat itulah terjadi apa yang ada di film Purge Anarchy, keyakinan dan kepercayaan terhadap penyelenggaraan kekuasaan yang sah jadi sebuah titik yang paling tidak bisa dipercaya oleh rakyat. Apakah hal itu mungkin terjadi di Indonesia? Sangat mungkin, negeri ini sangat demokratis bahkan ada ruang nyaman dengan AC yang dingin bagi mereka yang merongrong kedaulatan negerinya sendiri. Dan dijamin Undang Undang kiprah dan proposal-proposalnya.

“NKRI Bersyariah” Dagelan Lawas Penjaja Agama

Mungkin FPI adalah satu-satunya ormas yang bisa masuk rekor MURI untuk kategori “Ormas paling sering muncul di media karena rusuh”. Dan celakanya label agama melekat, bahkan jadi bagian dari nama organisasinya yaitu Islam. Kalau dari sisi marketing mungkin sudah benar itu brandingnya, tapi untuk mewakili Islam tentu masih jauh panggang dari api.

Fakta seputar FPI selalu hal yang negatif, bahkan tercatat secara khusus di laman wikipedia, selain media digital tentang aksi negatif FPI. Media nasional sekelas Tempo bahkan menyusun artikel rentetan aksi FPI sejak tahun 1999 atau setahun setelah lahir udah rusuh aja. Baca disini: Rentetan Aksi FPI dari Masa ke Masa

Persekusi adalah sebuah strategi yang selalu ditampilkan, baik elit maupun laskarnya sangat akrab dengan tindakan persekusi. Yang awalnya malu-malu hingga akhirnya membesar dan makin vulgar setelah “disentil” Gus Dur, yang puncaknya adalah peristiwa Monas 1 Juni 2008 yang membongkar topeng FPI sebenarnya. Aksi kekerasan dengan perusakan ditunjukkan vulgar dan diliput media nasional dan internasional.

Bukan memperbaiki menjadi lebih kalem, tapi justru menjadikan peristiwa tersebut sebagai tonggak yang memperkuat positioning mereka sebagai ormas barbar. Selalu menjadi penggerak segala aksi intoleransi, berhubungan dekat dengan politisi penjaja agama dan juga dimanfaatkan oleh kepentingan politik lain. Ada dokumen bocor atau wikileaks yang menyatakan bahwa FPI memang sengaja dibentuk sebagai “Attack Dog” Baca Bocoran Wikileaks: FPI Itu “Attack Dog” Polri

Seolah mendapat banyak legitimasi atas tindakannya yang tidak direspon serius oleh Pemerintah saat itu, FPI makin pede menyampaikan AD/ART tentang dukungannya pada khilafah. Bahkan berceceran jejak digital betapa Rizieq Shihab memuja ISIS dan menganggap ISIS adalah saudara FPI. Tidak cukup sampai situ, elit FPI Munarman juga terekam melakukan baiat pada Baghdadi ISIS.

Perlawanan pada FPI akhirnya terjadi justru saat mereka sukses menjadi pioneer sebuah gerakan bernama 212. Ormas Islam Moderat NU dan Muhammadiyah mendorong Pemerintah harus mulai tegas terkait ideologi Pancasila dan ancamannya dan juga menindak FPI secara tegas. FPI kaget karena sejak lahir baru kali ini ada perlawanan dengan skala Nasional karena menyangkut isu ideologi, sehingga mereka ubah slogan menjadi NKRI Bersyariah.

Slogan cacat yang gagap sejarah, NKRI ini sudah sesuai Syariat Islam dimana nafas utamanya ada dalam pembukaan UUD 1945 terutama tentang anti penjajahan dan menjadi Bangsa yang berdaulat, yang merupakan esensi dari Syariat Islam itu sendiri. Dipertajam lagi dengan kesepakatan Founding Fathers Indonesia yang bersepakat bahwa Pancasila adalah Kalimatun Sawa atau titik temu dari semua perbedaan untuk persatuan.

Jadi, ketika FPI menjajakan slogan “NKRI Bersyariah” akan langsung diuji dari sistem ketatanegaraan karena Indonesia adalah Res Publica atau Negara yang disepakati oleh kehendak rakyat, dengan menjadikan Piagam Madinah sebagai cetak biru penyusunan dasar Negara Indonesia. Sedangkan NKRI Bersyariah ala FPI adalah tentang kekhalifahan berdasarkan ulama mereka yang entah sedang apa dimana berbuat apa. Khilafah dan Republik tidak akan bisa berdampingan, karena Indonesia sudah final sebagai NKRI dengan 4 Pilar kebangsaannya.

FPI sekarang sedang krisis identitas, mengurus SKT juga susah karena bertabrakan dengan UU Ormas yang ada. AD/ART tentang NKRI Bersyariah juga blunder sendiri karena gagal uji. Bahkan disentil Menko Polhukam Mahfud MD bahwa mereka tetap bisa berserikat dan berkumpul seperti arisan kampung yang dijamin oleh Negara eksistensinya.

Pemerintah sedang diuji terkait hal remeh temeh ini, dan sejauh ini cukup memupus harapan FPI untuk menjadi Ormas yang terdaftar secara resmi. Diombang ambing banyak hal yang justru memunculkan kewaspadaan baru bagi beberapa agenda politik 5 tahun kedepan. Dari sisi kekuatan sudah sangat turun, terbukti dari reuni reunian yang makin sepi, dari sisi narasi juga kosong alias hampa. Tapi harus waspada karena ada 2 kekuatan yang mulai merger, sama-sama “tertolak” dari NKRI yaitu HTI.

Yang pasti sampai detik ini HTI masih gerilya terus, terkesan dibiarkan karena implementasi dari kebebasan berpendapat dan berserikat. Melalui aksi klandestein dipojok-pojok kampus mengumpulkan kekuatan basian. Akan bertemu pada jalur kepentingan yang sama dengan FPI dan mungkin akan membentuk sebuah kekuatan baru. Pemerintah harus cerdas dan cepat tanggap terkait hal ini, mereka terlatih untuk rusuh dan punya pengalaman untuk menggunakan Agama sebagai landing page aksi besar mereka untuk proposal pada bohir politik kepentingan.

Waspadalah!

Ketika Nusantara Menyeru, Arab dan Vatikan-pun Bersatu

Alkisah di kota Halab atau sekarang dikenal Aleppo Negeri Syam, terdapat satu Masjid bernama Al Nuqtah yang sangat masyur. Di Masjid yang dulunya adalah biara bernama Mart Ruta, terdapat kisah yang menakjubkan bagi perkembangan Islam. Mart Ruta adalah sebuah tempat dimana biarawan meminta kepada pasukan Yazid untuk membersihkan dan mendoakan kepala Sayyidina Husein.

Bahkan biarawan tersebut membayar sangat mahal kepada pasukan Yazid yang memainkan potongan kepala Sayyidina Husein seperti bola sepak yang ditendang kesana kemari. Kemudian sepakat dan diberikanlah kepala tersebut kepada para biarawan, kemudian dibersihkan, diberikan minyak wangi dan didoakan semalaman. Biarawan di Mart Ruta bukanlah pemeluk Islam, namun mereka melihat ada aura bercahaya pada potongan kepala itu dan meminta mendoakan.

Kisah diatas masyur sekali dan dituliskan pada sebuah buku yang ditulis Syekh Ibrahim Nasralla berjudul “The Traces of Ale Mohammed in Aleppo”. Dan peninggalan batu tempat meletakkan kepala Sayyidina Husein juga masih ada sampai detik ini di Masjid Al Nuqtah yang dulunya biara Mart Ruta. Dan Kenabian Muhammad SAW yang terpancar melalui aura keturunannya menembus semua umat, biarawan dan pendeta yang mengurus kepala Sayyidina Husein adalah buktinya.

Kisah seperti diatas tentu sangat tidak populer karena oleh Wahhabi dan anasirnya dianggap sesat ataupun dicarikan dalil yang pas untuk menyesatkan hal tersebut. Selalu ada “penggembosan” terhadap ajaran kasih Nabi Muhammad SAW, dan yang ditonjolkan adalah bagaimana dalil perang dan sebagainya asal bisa menjustifikasi tujuan mereka yang sungguh transnasional. Menggunakan agama sebagai bumper untuk tujuan duniawi yang mereka mau, keturunan para khawarij!

Menembus batas ruang dan waktu ratusan tahun, Pada 26 Oktober 2018 GP Ansor sebuah organisasi kepemudaan badan otonom NU menggagas hal yang luar biasa momentumnya bagi dunia. Dengan semangat kemanusiaan bagi peradaban dan kedamaian dunia, GP Ansor menyerukan sebuah ikrar yang digagas dan dikembangkan melalui Global Unity Forum dan Humanitarian Islam sejak 2015. Ikrar tersebut disebut sebagai “Seruan Nusantara” dimana mengajak dunia bersatu padu menyebarkan bahwa Agama adalah pendamai bukan pemecah belah.

GP Ansor melawan arus besar yang dihembuskan oleh “The Arab Spring” dimana agama dijadikan landasan untuk kekuasaan politik di banyak negara Arab, dengan solusi yang berbeda yaitu menjadikan Agama sebagai perekat kemanusiaan. Atau Islam Rahmatan Lil Alamin yang di-implementasikan dengan pertemuan banyak agamawan dan budayawan dunia kemudian berikrar untuk menjadikan Agama sebagai sumber kasih sayang dan kemanusiaan, bukan dasar perbedaan dan peperangan.

Kemudian pada bulan Februari 2019 lalu, ditandatangani juga hal serupa yang melibatkan 3 tokoh Agama besar dunia yaitu Paus Fransiskus dan DR Ahmed At-Tayyep Imam Besar Al Azhar. Deklarasi yang disebut “Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Berdampingan” itu berupaya mendorong untuk hubungan yang lebih kuat antara umat manusia. Sebuah langkah besar yang dimulai dari sebuah negeri diujung timur bernama Nusantara, kemudian mendunia.

Urutan tersebut apakah kesengajaan atau bukan wallahualam, tapi satu hal yang pasti adalah “Jangan menggunakan Agama sebagai justifikasi untuk kekuasaan politik duniawi”. Pesan itu sangat kuat dan solid, bahkan Gus Dur selalu menyampaikan bahwa Kemanusiaan harus diatas kekuasaan politik. Seruan- seruan kecil atas persatuan yang menembus batas kepercayaan ini adalah solusi perdamaian dunia. Yang sudah diteladankan oleh Nabi Muhammad SAW pada ummatnya, baik melalui ajaran maupun sunnah yang diteladankan.

Bahkan dokumen yang digagas secara langsung oleh Nabi Muhammad SAW ketika membangun Madinah Al Munawwaroh yang berarti “Kota yang bercahaya” dan dikenal sebagai Piagam Madinah, menjadi sebuah prototype ketika melahirkan Indonesia dengan dasar dan pilar Kebangsaan melalui sebuah kesepakatan dari berbagai macam latar belakang dan suku bangsa, dan menjadikan Agama sebagai perekat utama atas kesepakatan yang akhirnya menjadi Konsensus Kebangsaan.

Semua bermula dari Nusantara, untuk dunia.. Demikian Ronin Bekerja.

Polisi Masjid, Gereja, Pura, Vihara dan Klenteng

Agak lucu juga ketika viral foto disebuah Jamaah Masjid Sukabumi ada yang memakai sorban bertuliskan Polisi Masjid Promoter. Yang kejadiannya sendiri sudah 2 tahun lalu, mendadak viral dan wacana diangkat kembali tentang perlu atau tidaknya ada Polisi ditempat ibadah dengan tugas mengamati ceramah.

Apakah sudah sedemikian perlu? Pertanyaan itu terdengar retoris ketika pengeboman dan aksi teror masih terus terjadi. Menggunakan Agama sebagai justifikasi atas tindakan teror yang merugikan orang lain, bahkan nyawa orang yang tidak tahu apa-apa acap kali jadi korban dari aksi “amaliyah” kelompok teror agama.

Masalah terorisme tak lepas dari intoleransi yang dipupuk beberapa anasir Islam transnasional seperti HTI dan pada puncaknya adalah melakukan bughat penegakan khilafah. Masalah paling utama adalah bagaimana ketahanan ideologi Indonesia tidak dirongrong dengan segala hal, termasuk agama. Jika Pemerintah dengan mudah nyikat separatisme, sepertinya jadi gagap saat nyikat anasir terorisme global. Ada keraguan tertentu karena takut nabrak fiqih.

Menerapkan Polisi dalam tempat ibadah memang efektif, jadi yang ceramah agak mikir “wah ada Polisi nih, kudu jaga mulut daripada masuk pasal”.

Apakah mereka yang terpapar radikalisme dan menjadi pelaku amaliyah meledakkan diri adalah jamaah pengajian umum? Hal ini sangat menarik dikaji lebih dalam supaya kita bisa jawab efektivitas adanya Polisi di tempat ibadah. Fakta dan temuan dari lingkar teror justru menjawabnya berbeda, pelaku adalah mereka yang jauh dari masyarakat dan penyendiri, bahkan ketika ngontrak rumah pun tetangganya tidak tahu.

Yang kedua, yang biasa melakukan ceramah intoleransi adalah “fanboy” mereka yang sifatnya bunglon, NKRI tapi bersyariah seperti FPI. Ceramahnya luar biasa vulgar, ada bunuh, halal darahnya, toghut dll. Jadi sudah ada 2 hal yang bisa dipilah untuk ditangani dengan tepat dan benar. Bukan sekedar pakai sorban bertuliskan Polisi Masjid tapi di Masjid yang notabene aman dan tidak terpapar 2 hal diatas.

Pencegahan terhadap radikalisme menjadi sulit ketika bawa-bawa agama, selain karena rawan tubrukan pemahaman mereka menyemai hal ini sudah sejak lama sekali. Mereka mengikuti bagaimana negeri ini bertransformasi dengan pilar kebangsaannya dan gerakan mereka nyaris tak terlihat. Jadi bagaimana mengatasi radikalisme dengan tepat sasaran? Dipasang Polisi salah, tidak dipasang juga cukup rawan.

Sebenarnya ada formula yang cukup ampuh, dan hal inj dicetuskan oleh Gus Dur dimana mengembangkan dan mengimplementasikan kekayaan Nusantara secara “Kaffah” akan otomatis mematikan gerak langkah radikalisme. Ambil contoh ketika Gus Dur memberikan kesempatan seluasnya kembalikan hak kaum Tiong Hoa sebagai bagian utuh Budaya Nusantara. Hal ini adalah 2 mata pisau, di satu sisi disambut positif namun disisi lain muncul benih kebencian yang bisa segera dideteksi.

Gus Dur memang fenomenal, Papua juga sama seperti itu diberikan kembali kekayaan dan kearifan lokalnya Bendera Bintang Kejora sebagai umbul-umbul yang bebas dikibarkan dengan penetapan UU. Papua kembali damai, rukun dan anasir separatis jadi mudah dideteksi keberadaannya.

Cara cerdas Gus Dur inilah jawaban atas semua persoalan saat ini yang serba kabur, kembalikan kearifan lokalnya dan berikan ruang bagi Nusantara sehingga tidak diperlukan lagi adanya Polisi bersorban pakai sablon Polisi Masjid, karena hal itu bukanlah jawaban dan hanya menjadi senjata bagi mereka untuk mencari-cari kesalahan Polisi seperti yang selama ini sudah dilakukan.

BUMN Induk Semang Bughat harus Dihabisi

Membaca beberapa kejadian terkait BUMN yang aneh-aneh ini semakin menjelaskan yang pernah saya tulis disini: Tholabun Nusroh HTI dan Pancasila Bersyariah. Ada sebuah pengkondisian dari warisan strategi politik lawas yang dulu dikenal KKN. Jika KKN adalah untuk menjaga dinasti Soeharto, maka Nusroh yang dilakukan sekarang ini lebih kompleks dari sisi ideologi dan tujuan jangka pendek.

Sekarang adalah masa dimana semua kekuatan yang tidak sejalan dengan ideologi Pancasila bersatu padu. Menurut saya sendiri, ada beberapa kekuatan yang merongrong Indonesia dan khilafah adalah yang saat ini paling kuat karena dibantu bonus demografi dimana banyak millenial yang ingin eksis dan tetap agamis. Wadahnya ya khilafah beserta anasirnya, jika ditelaah lebih lanjut ya tujuannya cuma mau bughat saja.

Tidak ada yang murni perjuangannya berdasar ideologi kecuali ISIS, semua yang ada hanya topeng saja. Contoh: HTI yang slogannya paling Islam dan khilafah untuk segala hal, justru menggunakan hal-hal yang tidak “Islam-islam kaffah banget” mulai dari mengembangkan channel youtube yang dimonetasi, banyak elitnya yang kerja di bank yang jelas-jelas riba, sampai pada bisnis siaran digital yang menggunakan prasarana kafir. Hari ini ngomong selfi itu haram, besoknya dia selfi sambil ngiklan toko online, itulah badut HTI.

Para ahli menyebut ini adalah gegar budaya alias cultural shock dimana peran digital sangat membantu apa yang mereka perjuangkan. Beli gamis paling keren dan minyak wangi aroma Roudhoh sambil piara jenggot sudah bisa ditakzimi orang. Seperti itu gambaran zaman sekarang dan hal ini masuk ke BUMN. Tren sekarang adalah dengan menggunakan wadah pekerja sebagai benteng depan kepentingan elit yang tidak mau diubah alias pro status quo.

BUMN adalah sebuah kendaraan besar dengan banyak resources untuk bergerak menuju bughat dari kepentingan politik yang menumpang. Ini agak rumit dipahami tapi kenyataan demikian adanya. Tertangkapnya Arie Askhara yang menyelundupkan motor mewah belakangan ini adalah contoh riil, ada negara dalam negara yang dimanfaatkan kepentingan politik.

Fakta selundupan itu rekam jejaknya sudah sangat lama, bahkan keluhan dari karyawan juga tidak terdengar. Saat ganti Menteri barulah suaranya lantang karena Menteri menggebrak dengan slogan “bersih-bersih BUMN dari korupsi dan radikalisme”. Sebuah panggilan yang disambut baik dan menghasilkan tangkapan yang sedemikian spektakuler. Dirutnya saja maling apakabar anakbuahnya? Itu respon logis dari siapapun yang tahu kasus ini.

Untuk menghancurkan negeri ini sungguh mudah, kuatkan para pejuang ideologis di pos strategis BUMN seperti yang pernah saya tuiskan diatas, kemudian berikan elit BUMN ruang gerak semaunya. Mau korupsi, nyelundupkan barang, main perempuan ataupun narkoba. Berikan yang terbaik supaya kaum radikal dibawah bisa bergerak bebas dan bekerja membusuki Negara dan bermain sistem.

Hal ini standar yang dilakukan aktivis mahasiswa ketika mau rekrut anggota NII, cari yang paling menonjil untuk dikader dan beri dia apa yang dia mau, miras, narkoba, wanita dan apapun sampai akhirnya dia bergabung. Jihad dalam NII ini adalah sebuah blueprint perjuangan radikalis yang ngiler ingin menguasai NKRI. Dan mereka cukup banyak pengalaman dan lintas orde, sehingga penguasaan sistem adalah apa yang mereka lakukan.

Jika tidak bisa membentuk tentara, maka matikan semua badan usaha milik negara sampai Indonesia ini lumpuh secara ekonomi. Puaskan elitnya dengan kemabukan dan hilanglah Indonesia tanpa kita sadari, tiba-tiba hilang begitu saja tanpa ada yang menyadari atau bahkan sudah serba telat untuk bertindak.

LAngkah bersih-bersih BUMN ini harus terus dilakukan dengan gencar dan besar-besaran karena ini adalah masanya, dimana mereka yang anti NKRI sudah berada dalam tahap kekuatan penuh. Terbukti dari pelantikan beberapa elit kemarin adalah anasir dari gerakan radikal dan anti NKRI. Jika hal ini terjadi, kita tidak perlu berfikir pencegahan dan deradikalisasi karena semua sudah terlampat.

Ayo Pak Erick dan Pak Tito, ini harus cepat dan segera meluas. Bahaya!

Bangkitnya Lemuria dan Mu Atlantis didepan Mata

Seperkasa apa sebuah hegemoni kekuasaan yang pernah tercatat sejarah, baik fakta ataupun mitos? Kita bisa mulai dengan besarny Persia yang luar biasa atau Romanum Imperium yang menjadi tatanan kekuasaan model baru, jauh setelah sistem Teokrasi sudah ditinggalkan ketika Tuhan menganggap manusia terlalu tamak menguasai dunia.

Ada juga teori kuat dari banyak ahli dimana sejarah pasti berulang kembali, untuk sebuah pembaruan dunia. Freethinker juga sama, mempelajari dunia dengan banyak disiplin ilmu yang intinya menyatakan bahwa dunia sedang ber-metamorphose. Semua anggapan para ilmuwan adalah bagaimana dunia “refresh” menjadi sesuatu yang baru dan tetap disini adanya, mungkin karena fakta punahnya dinosaurus.

Agama beda lagi, dunia ini adalah tempat mampir menuju tempat kekal dan kebaruan. Jadi kalo sekarang banyak yang debat kusir mana yang benar antara mereka yang tidak percaya Tuhan dengan yang percaya Tuhan menurutku sia-sia saja, kenapa? Kalian memperdebatkan hal yang tidak akan pernah nyambung. Akhirnya ya fallacy dan gelut dan saling ancam trus nangis dipojokan.

Lepas dari pemahaman dan keyakinan diatas, ada satu analogi yang sangat pas dan kekinian terkait Lemuria dan Mu dengan bangsa tangguhnya yang bernama Atlantis. Jika Lemuria dikenal sebagai “orang ampuh” kanuragan dan banyak artifak penting terkait Kumari Kandam (banyak literasi ini) dimana satu keping Dravida menjadi asal muasal India.

Sedangkan dari Mu, bangsa Atlantis “konon” ada di Nusantara dengan keahlian tehnik dan paham dengan mekanika logam, itulah kenapa di Indonesia ketika budaya lain kenal logam baru sebatas bikin pedang dan golok, disini sudah bisa bikin Gamelan dan Keris yang bisa jalan-jalan sendiri.

Lupakan Lemuria, lupakan Mu dan juga Atlantis karena hanya prolog saja. Kondisi terkini dunia adalah sedang krisis ekonomi dan mengulang sejarah Malaise Dunia di penghujung Perang Dunia 1 dimana dunia bangkrut berjamaah. Malaise adalah tonggak perbaikan dan reformasi ekonomi dunia karena dampaknya luar biasa. Perang belum selesai tatanan dunia menuju kapitalisme dan anjloknya New York Wall Street yang merupakan parameter ekonomi dunia, karena semua dampak revolusi industri dicatatkan disana.

Saking seramnya hal ini, ekonomi dunia ambruk total saat itu. Seperti gambaran kiamat, bahkan negara kolonial macam Belanda juga ambruk dan harus keruk Indonesia habis-habisan untuk bertahan hidup, sementara penduduk Indonesia makan gedebok pisang dan busung lapar. Industri kopi Hindia Belanda yang saat itu besar dan memasok Eropa juga hancur karena tidak ada demand sama sekali, sementara Indonesia banyak yang meninggal karena lapar.

Bursa saham hancur, industri hancur, ekonomi sekarat. Ibaratnya Asia adalah kulkas penuh makanan yang tidak tersentuh karena tidak bisa dijual, sementara masyarakat Asia sudah dibodohi sampai sekarat. Hingga akhirnya ditengah kehancuran, Industri penolong adalah tekstil yang tumbuh subur, ternyata pasar dunia butuh baju juga, mirip nasehat Jawa Sandang, Pakan, Papan dan akhirnya menggeliat.

Sekarang ini dunia sedang dalam masa jelang malaise alias “Great Depression” dimana perang dagang AS dan Cina menyasar dan mempengaruhi dunia ketiga, dunia yang secara ekonomi tidak tumbuh karena sebuah kesalahan kebijakan politik. Dan juga negatra yang tidak bisa berproduksi apapun, plus alamnya tidak bisa menghasilkan. Satu persatu runtuh dengan pertumbuhan kecil bahkan minus dan akhirnya resesi.

Bagaimana Indonesia? Indonesia diuntungkan dengan banyaknya penduduk dan juga banyaknya industri untuk pemenuhan kebutuhan masyarakatnya sendiri. Plus banyaknya lapangan kerja baru imbas revolusi industri 4.0 yang menggeliat dengan startup yang masuk kategori decacorn. Yang meraup banyak sekali tenaga kerja dan mengimplikasi ekonomi kerakyatan.

Terlalu susah untuk pesimis, walau harus tetap waspada dan paham dengan goncangan dunia yang mulai kerasa, langkanya minyak dan energi tak terbarukan yang solusinya sudah nampak dengan kreativitas membangun pusat energi terbarukan, dan ini untuk bangsa dan oleh bangsa.

Kebangkitan ras Atlantis di Indonesia ini harus tetap dipelihara dan dikembangkan, karena Indonesia adalah Atlantis yang hilang. Karena saat ini Lemuria juga sedang bangkit menjadi kekuatan ekonomi besar dunia. India

212 dan Kebangkrutan Ummat

Jamaah angka cantik 212 sedang mengalami senja kala, jika dilihat sejak usai Pilkada DKI pamornya makin turun. Spirit 212 yang dikapitalisasi beberapa elit untuk menjadi kebangkitan ummat juga jauh panggang dari api. Kebangkitan yang dimaksud awalnya adalah ekonomi, implementasinya dengan membuka gerai 212 mart yang berhadap-hadapan dengan Alfamart dan Indomaret.

Diikuti banyak narasi kebangkitan lain dengan slogan “Aksi Bela Ulama” dengan klaim 7 juta ummat yang kadang naik jadi 12 juta dan angka-angka spektakuler lainnya. Detailnya saya pernah menulis ini, sebelum aksi reuni 2 Desember 2019 tadi: Orang ini Dicekal Isi Kepalanya Sendiri

Nah, hari ini adalah pembuktian dari semua teori yang beberapa orang bilang dan saya juga menulis hal tersebut, apakah itu? Kebangkrutan ummat sudah didepan mata. Yang saya kaji adalah bagaimana sebuah semangat membela agama dibelokkan menjadi spirit lain-lain bahkan masuk ke ranah politik yang kita semua tahu bahwa di politik tidak ada yang abadi.

Lambat laun 7 juta ummat semakin hilang dan tenggelam tinggal jadi buih, bahkan Anies Baswedan terpaksa diralat ketika memberikan sambutan salah sebut ribuan massa. Yah karena yang dia lihat memang hanya ribuan saja, bukan jutaan. Jika kemarin dia bilang jutaan ya biar senang saja panitianya, toh tidak ada administrasi atas reservasi dan angka jelas juga untuk besaran ini.

212 adalah political movement yang gagal total menjangkau secara emosi hingga jadi kekuatan sosial. Dimulai dari banyak pentolannya yang bingung dipermainkan politik, kemudian jadi baper saat Prabowo diangkat jadi Menteri Pertahanan kabinet Jokowi. Coba bayangkan bagaimana perasaan ummat kalau ingat wajah Prabowo saat sangat riang gembira menerima SK dari Jokowi saat pelantikan lalu.

212 mencoba menyasar literasi digital dengan membuat sebuah film yang cukup jelek, dan tidak laku. Karena dalam dunia film harus paham pangsa pasar dan juga segmen penonton, dan hal ini lepas dari hitungan produser yang lupa kalo ummat 212 anti film karena film adalah kaver.

Paling pahit adalah 212 mart yang pada bangkrut karena tidak jual rokok, toko buka di daerah yang mayoritas adalah Nahdliyin dan tidak jual rokok ya salah besar. Termasuk 212 mart yang diresmikan Sandiaga Uno saat Pilkada DKI, tutup juga karena tidak laku. Salah cari lawan, kenapa kudu melawan Alfamart dan Indomaret yang notabene menghancurkan bisnis raksasa ritel maca Giant dan Seven Eleven?

212 akhirnya cukup jualan merchandise logo HTI saja, jadi topi, kaos, bendera dan gantungan kunci. Yang jika dikritisi langsung ngeles “ini kalimat suci tauhid” yang sering lupa diduduki bahkan dipakai buang hajat dan tidak dilepas. Terlalu malu atau takut dituduh antek HTI, hingga akhirnya menggunakan agama sebagai bumper setiap hal yang dibuat. Tapi lambat laun juga akan hilang dengan sendirinya, karena tidak ada yang abadi dalam politik.

Saudaraku 212, sadarlah bahwa kalian adalah politikus bukan jamaah sebuah pengajian. Misi utama kalian adalah mengembalikan imam besar yang susah pulang karena kerumitan pikirannya sendiri. Sadarlah bahwa mending kalian bikin partai supaya lebih pas, walaupun 7 juta ummat belum tentu mau nyoblos, tapi paling tidak jalur yang kalian tempuh itu jujur berpolitik, bukan menggunakan agama sebagai kekuatan politik.

Tholabun Nusroh HTI dan Pancasila Bersyariah

Intoleransi dan radikalisme sebenarnya hal yang mudah ditangani, jika sudah dipahami artinya memang ada cipta kondisi atas hal tersebut. Saya pernah tulis bahwa untuk menangani intoleransi dan radikalisme ini caranya adalah dengan mempromosikan kearifan lokal Nusantara. Karena akar dari intoleransi adalah tidak bisa menghargai budaya dan kearifan lokal Indonesia.

Dalam sejarah Indonesia, paham radikal atau transnasional ini sudah ratusan kali mencoba merongrong kedaulatan namun gagal terus. Jika ditelaah, penyebab kegagalan mereka karena peran penting Organisasi Islam yang moderat seperti NU dan Muhammadiyah. Sebagai Negara dengan penduduk mayoritas Islam, tentu Islam memegang peranan penting dalam tatanan dan arah bangsa yang berdaulat dalam sebuah Negara.

Mari kita lihat kenapa HTI (hampir) bisa menguasai Indonesia, di Hizbut Tahrir ada beberapa strategi untuk mengangkangi kedaulatan sebuah negara bernama Tholabun Nusroh. Yaitu sebuah konsep mencari perlindungan untuk memenangkan kekuasaan, Pakar Terorisme dari GP Ansor DR Nuruzzaman bahkan secara gamblang pernah jelaskan implementasinya HTI masuk ke stake holder dan BUMN memasang “key person” mereka di jabatan strategis.

Konsep Tholabun Nusroh adalah sebuah taktik parasit yang masuk ke inang dan menjadi bagian dari inang tersebut untuk satu saat membunuh dari dalam. Dalam revolusi Iran hampir saja HT mengangkangi Negara tapi gagal juga. Dan penyebab utama HT dilarang dibanyak negara Arab adalah karena strateginya ketahuan, dan banyak juga yang disebabkan karena perbedaan pemahaman dasar atau mazhab.

Indonesia yang toleran ini selain sebagai celah bagi mereka yang beda supaya mudah masuk, juga menjadi ganjalan karena keberagaman ini sudah ditetapkan sebagai pilar kebangsaan. Founding fathers Indonesia telah bersepakat dan menjadikan Bhinneka Tunggal Ika adalah konsensus final kebangsaan. Mereka bisa bebas masuk kesini, tapi rambu-rambunya jelas sehingga mereka akan mentok pada satu titik yang tidak akan menjadikan mereka kemana-mana.

Karena kesulitan itulah, maka mereka harus masuk menjadi bagian dari sistem, jika perlu mereka yang anti demokrasi ini ikut meramaikan pemilihan. Seperti yang dilakukan HTI di Pilkada DKI 2017 mendukung satu kontestan pakai isu agama, dan sekalian kampanye jumpa kader tentunya. Walaupun setelah itu dibubarkan oleh Pemerintah.

Jika sekarang masih banyak Kader HTI di BUMN dan kantor-kantor Pemerintah ya wajar, Nusrohnya kan sudah berjalan sejak mereka tabligh akbar di Gelora Bung Karno 2013. Jangankan kroco, sekelas Adhyaksa Dault yang pernah jadi Menteri saja hadir dan mendukung kan? Kaget gak sih kita sebagai awam, saya sih kaget kemudian mengkaji dan tanya yang ngerti dan lumayan gak kaget akhirnya.

Pertanyaan paling penting adalah bagaimana melakukan “deradikalisasi” pada kader HTI yang sudah berada di Pemerintahan bahkan menjabat sangat tinggi? Mereka masih aman dari sisi kepegawaian dan kaitannya dengan hukum Indonesia, tapi sampai kapan? Bisa saja lama, bisa saja segera hilang ketika UU terkait deradikalisasi diketok palu (entah kapan moga-moga cepet).

Sementara hal tersebut masih ditunggu, kita sebagai masyarakat Indonesia yang cinta kebhinekaan dan Indonesia yang seperti apa adanya ini bisa berkontribusi. Langkah riil yang dilakukan adalah sama persis dengan apa yang sudah dikerjakan dan direncanakan kedepan oleh GP Ansor seperti pada tulisan ini: Bonus Demografi Indonesia Lahan Radikalisme

Hal yang sudah terbukti dan teruji untuk melawan paham transnasional seperti HTI adalah dengan memperluas penyebaran budaya lokal dan juga keberagaman. Ibarat lele yang hidup di kolam penuh tai, budaya lokal dan keberagaman adalah air jernih yang bikin lele itu tidak tahan hidup dan pergi mencari comberan baru.

Sekarang ini Indonesia sedang diuji oleh banyak kepentingan, yang paling gawat adalah kepentingan ideologi yang menjadi parasit di demokrasi. Celakanya HTI sudah banyak sekali “panen” taktik nusrohnya ini sampai pada level strategis terkait ideologi. Data menunjukkan paparan radikalisme yang berbasis agama pada PNS, BUMN, Mahasiswa Sekolah Negara, TNI-Polri pada angka yang cukup mengkhawatirkan, bahkan beberapa tokoh menyebut Indonesia Darurat Radikalisme.

Daripada pusing dengan apa yang kita susah pikirkan terkait deradikalisasi oleh Pemerintah, lebih baik kita lakukan hal yang bisa dilakukan secara langsung yaitu membuka kesempatan sebesar-besarnya bagi budaya lokal dan kearifannya. Serta mempromosikan Bhinneka Tunggal Ika dalam berbagai aspek, lawan intoleransi di lingkup sosial terkecil supaya parasit sejenis HTI ini minggat karena tidak betah.

Jangan pernah takut menghadapi mereka, karena kita Mayoritas. Kalo gak berani ya ajak Ansor Banser.

Indonesia Ladang Subur Investasi Bodong

Investasi bodong adalah bahaya kasat mata yang biasanya dianggap sepi karena pikiran awam “Gak kerja kog bisa dapat duit, pasti penipuan nih”. Yah, itu adalah tanggapan awam, termasuk saya juga sering beranggapan hal tersebut. Di sirkel saya juga tidak ada teman yang melakukan investasi doang sambil ongkang-ongkang kemudian kaya raya. Mungkin cuma saya yang pernah ikut dan ketipu juga wkwkwkwk…

Dulu pernah ikut investasi di PIPS yang server dan semua operatornya di Malaysia, kerjaannya cuma 1 saja yaitu pasang uang untuk ikut trading (istilah salesnya). Investasi dan dikirimi skrinsot sejumlah dana yang itu adalah uang saya, sudah masuk ke sistem dan dimainkan untuk trading. Lengkap dengan kolom withdrawal dan segala caranya memainkan gitulah, sambil nunggu akun saya jadi sehingga bisa dipantau sendiri.

Awalnya bisa lihat akun dan dana yang sedang main disitu, tapi tidak seperti laman opsi biner yang sekarang marak di internet sih. Jika di opsi biner kita bisa mainkan sendiri, mau jual atau beli atau tarik, kalo investasi bodong saya tidak ada. Semua dimainkan oleh sistem dan konon kabarnya tiap saat bisa dipantau dan dilakukan withdrawal. Singkat cerita, web yang untuk akses ini tiba-tiba hilang dan marketing sibuk menginformasikan ini ada hacker dll, intinya dana ilang dan semua ilang wkwkwkwkwk…

Kemudian kemarin saya bertemu 8 kawan yang curcol duit investasinya hilang, dan jumlahnya tidak main-main karena per orang rata-rata 1.5 Milyar! Mereka cerita jika duitnya ditrading ke MIA Fintech Malaysia. Intinya sama seperti cerita saya, dan yang mengagetkan adalah jumlahnya yang luar biasa besar. Teman saya ini rata-rata pengusaha dan ngerti tentang perputaran uang, investasi dll tapi kena tipu.

Dan boleh dibilang yang ditipu MIA ini rata-rata orang yang melek bisnis, saya mencoba cari berita terkait MIA dan memang sudah banyak beredar investasi ini berjalan 2 tahun di Indonesia dengan pusat Malaysia, dan investor yang pasang duit disana ada ribuan, bahkan kawan saya klaim jika ada 50 ribu member di Indonesia. Saya langsung melongo sambil ngitung jika 50 ribu member itu invest 100 juta saja sudah berapa duit tuh?

Artikelnya disini: CEO MIA Fintech dilaporkan ke Mabes Polri

Berkaca dari kasus diatas, Indonesia ini lahan sangat subur bagi dunia investasi, termasuk yang bodong. Orang Indonesia ini suka inves dan membiarkan duitnya beranak pinak, ada yang beneran dan banyak yang bodong. Seminggu lalu Kepolisian Malaysia menggerebek sebuah tempat yang terbukti dipakai untuk melakukan praktek penipuan online, dengan modus sama seperti cerita diatas, yaitu investasi bodong.

Tidak tanggung-tanggung yang ditangkap ada 600 orang lebih, baca: Malaysia Ciduk 680 WN China Terduga Sindikat Penipuan Online Terbesar

Selang seminggu kemudian, Polda Metro Jaya berhasil menangkap sindikat penipuan digital yang juga WNA dari China, baca: Kasus Penipuan Via Sambungan Telepon, 85 WN China Jadi Tersangka.

Jika dibilang apakah ini sindikat, maka rangkaian dan sistem kerja mereka diperkuat dengan banyaknya operator (pelaku), maka ini adalah sindikat penipuan digital yang sangat besar dan sudah mengakar turun temurun. Bisa jadi orang-orang ini yang menipu saya sekitar 15 tahun yang lalu, karena modusnya sama persis inves invesan gitulah.

Harus dilakukan tindakan yang sangat tegas karena jika jumlahnya sebesar itu disini, apakabar jumlah mereka di belahan dunia lain dan juga di pusatnya sana. Meraup duit dengan perputaran sangat tinggi, tidak mendapatkan sertifikat resmi dari Negara dan bebas berkeliaran mencari mangsa di Indonesia. Harus dihukum yang berat, dan juga harus disampaikan terus-menerus di masyarakat Indonesia.

Jangankan yang investasi melalui platform digital, Indonesia ini telpon dan SMS “papa minta pulsa” saja masih marak dan masih ada saja yang kena tipu, apalagi yang sudah termoderasi sangat canggih seperti investasi bodong diatas. Intinya, jangan mudah percaya pada iming-iming “duduk dirumah dan menghasilkan uang”. Probabilitas keberhasilannya sangat kecil, mirip beli togel. Dan togel masih mending ada kerjanya, nongkrong di kuburan nunggu pocong.

Ya sudah gitu aja, salam waras.