Aku Banser, Anakku Santri

Sebuah kebanggaan ketika bisa bergabung dengan satuan Banser, terlebih jika kita tahu apa itu Banser dengan mendalami giatnya, karakternya maupun khidmahnya bagi negeri tercinta ini dan bagi Nahdlatul Ulama.

Banser adalah paket lengkap dimana kelebihan Banser dibanding yang lain adalah, yang namanya Banser itu sudah pasti kader GP Ansor dan sudah pasti Nahdliyin. Ini keunggulan Banser dibanding yang lain.

Karena mengemban amanat yang tertinggi, ya harus ber-Ansor dan juga harus hidup dengan laku seorang Nahdliyin tentunya. “Karomah” Banser ini luarbiasa, hampir di semua giat sosial kemasyarakatan dan pengajian Pasukan TNU ini selalu terdepan untuk membantu jamaah maupun masyarakat pada umumnya.

Terpatri didada semua Banser adalah wasiat dari Mbah Wahab di brevet Banser ada “Nahnu Anshorullah” dan pada baretnya ada “Yaa Illahi”. Maka jangan heran kalo pada lihat bagaimana perjuangan Banser mendapatkan brevet dan baret tersebut. Kenapa? Inilah cara kami takzim dan manut dawuh para Kyai Muassis Jami’yyah Nahdlatul Ulama.

Harapan tertinggi dari Banser, dan cita-cita yang selalu dimohonkan doa oleh para Sahabat Banser itu cuma 1. Ingin mengawal para Kyai dan menerima limpahan barokah dari mereka. Barokah itu mengalir sampai anak cucu, InsyaAllah kecipratan semua generasi penerus dengan limpahan berkah yang dijadikan sangu urip.

Saya Banser yang “bermasalah” terkait keluarga, masa lalu mengharuskan keluarga kecil saya pisah dan tetang mengasuh anak tentu saja jadi hal yang sangat merepotkan dimana anak tidak punya orangtua utuh seperti pada umumnya. Anak ikut simbahnya (ibu saya), sehingga proses “parenting” keluarga saya agak unik.

Terlebih saat anak membutuhkan perhatian lebih dari bapaknya yang diluar kota sehingga tidak mampu selalu memenuhi kebutuhan anak ketika harus sharing dan berbagi. Hal ini berpengaruh pada anak, menjadi liar dan semaunya sehingga ibu saya kelelahan dan saya harus ambil sikap atas hal ini.

David adalah anak yang sangat mengidolakan bapaknya, saya ini dulu kaya gini modelnya dan tidak pernah berlaku sebagai seorang bapak. Tapi apapun yang saya lakukan, David selalu mengidolakan saya sebagai bapaknya yang hebat (saya kadang nangis pas tidak bisa menjadi bapak sesuai ekspektasinya)

Semua berubah ketika saya masuk Banser, aktif di GP Ansor dengan giat-giat luar biasa. Anak saya sangat senang dan saya juga bahagia sekali karena kali ini dia bisa bengga sama bapaknya yang memang sudah lebih “ndalan” bersama GP Ansor.

Mulai banyak obrolan dari kita bapak dan anak, apa itu Banser, apa itu NKRI, kenapa kita memilih rahmah padahal dihujat tiap hari. Dan ketika di Muntilan ada giat Banser, David selalu kirim foto dan video “Pak aku ikut temani Banser jaga pengajian” padahal dia saat itu masih Kristen. Dari Banser dia tau bahwa agama adalah kasih, dan implementasi kasih ini ditunjukkan oleh Banser.

Saya terharu sekali ketika pada 10 Ramadlan kemarin David mengucapkan 2 kalimat syahadat di Masjid Nurul Huda Muntilan didampingi Sahabat Banser Muntilan dan tanpa ada paksaan dari siapapun, bahkan saya tidak pernah paksa dia berislam. Cukup saya berdoa supaya hidayah dicurahkan, saya kaget terharu lihat video David mengucap 2 kalimat syahadat.

Ramadhan ini membuatmu semakin bahagia sahabat…!!!!Selamat datang sahabat kecilku… David Jonathan Latumahina junior….Karangwatu – Muntilan – Magelang Ramadhan 1440.H / 2019. M..Kami bangga padamu

Dikirim oleh Lukman Bandar Helm pada Kamis, 09 Mei 2019

Sebulan kemudian, David ngajak ngobrol serius (saya juga kaget, tumben bener) dia pengen belajar Islam supaya bisa jadi manfaat bagi sesama, dia ingin masuk pesantren dimana saya bisa tiap minggu ketemu. Saya nangis, perjuangan anakku untuk sekedar bertemu dengan bapaknya dia terjemahkan menjadi sesuatu yang indah yaitu ingin mendalami Islam dan juga mendekat dengan bapaknya.

Kemarin, 16 Juni 2019 David saya lepas untuk jadi santri yang nantinya akan bermanfaat bagi Nahdlatul Ulama dan Indonesia. Walau saya ini tergolong orang kuat, tapi pecah juga pas antar dia dan pasrahkan pada pengurus Pondok Pesantren. Saya nulis ini karena kangen sekali dengan anak yang akhirnya nderek Mbah Hasyim. Semoga istiqomah dan juga berkah untuk kita semua.

Detik ini saya sudah boleh ngomong: “Aku Banser, Anakku Santri”

One Reply to “Aku Banser, Anakku Santri”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *