Anies Baswedan Jauh Lebih Jago dari Nadiem Makarim

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan adalah gerbang menuju masa depan generasi penerus Indonesia, yang sejak zaman Soeharto kita mengenal program bernama wajib belajar. Kemudian dimoderasi menjadi wajib belajar 9 tahun, dimana niru luar negeri karena sekarang ada kelas 9 yang tetep aja itu adalah anak kelas 3 SMP.

Anies Baswedan adalah mantan Menteri Pendidikan di Kabinet Kerja Jokowi 2014 yang kemudian dipecat (versi Anies: dicukupkan). Penuh dengan gagasan besar tentang kata-kata yang hanya dia dan orang giting lem aibon doang yang bisa paham apa maksudnya. Dalam hal keterampilan mulut alias bacot jelas Anies lebih jago, terlebih Sri Mulyani menemukan ngaco besar-besaran di Kemendikbud. Baca: Salah Hitung Anggaran Tunjangan Guru Rp 23,3 Triliun, Ini Penjelasan Kemendikbud (2016)

Yasudahlah bahas dia cukup, sekarang bahas Nadiem Makarim saja. Nadiem adalah sosok yang belum ngapa-ngapain pas jadi Menteri tapi sangat populer karena reputasinya. Pendiri Gojek startup terbesar di Indonesia ini kontribusinya memang bukan kaleng kaleng, valuasi Gojek sudah masuk kategori decacorn dimana nilainya 10 miliar dollar (gila banget kalo dirupiahkan).

Jokowi memperkenalkan Nadiem dengan “Mas Nadiem” sebuah panggilan spesial yang kaya makna. Bukan dari soal umur, tapi Jokowi menilai Nadiem inilah yang dipercaya mentransformasikan visi Jokowi terkait pendidikan yang berbasis digital dan “link and match”. Nadiem punya kompetensi dibidang ini karena ini adalah dunianya, dan buktinya juga sudah ada dan dinikmati oleh bangsa Indonesia.

Yang menarik dari Nadiem adalah kerangka berfikirnya yang sangat kekinian dan mudah dipahami dengan sederhana. Apa gagasan Nadiem tentang pendidikan?

  1. Wajib menguasai Bahasa Inggris karena persaingan kedepan (dan sekarang udah) adalah persaingan global bukan cuma lokal.
  2. Sekolah harus bisa mengajarkan bahasa koding kepada para murid, karena dunia digital tak lepas dari penguasaan koding.
  3. Ilmu statistik harus dikuasai, ya jelas ini jauh lebih berguna dibanding menyediakan sarana ngelem bagi siswa.
  4. Psikologi harus diajarkan, karena dunia digital adalah tentang desain dan desain harus didasari pemahaman psikologis yang tepat.
  5. Jangan ada Nasionalisme sempit, karena dunia ini sekarang sedemikian terbuka dan siswa harus siap bersaing disana.

5 hal itu akan menjadi “makanan baru” bagi sistem pendidikan di Indonesia yang sangat menggemparkan bagi kalangan pendidik. Karena hal itu adalah sesuatu yang sangat baru dan kemungkinan besar banyak yang tidak siap justru dari kalangan pendidik bukan pelajar.

Kalau pelajar justru merasa sangat relevan, apa yang disampaikan Nadiem sebagai gagasan diatas. Jangankan untuk urusan pelajaran formal, 5 hal diatas bahkan adalah nyawa dari game online (yang suka main game pasti sependapat). Karena dunia digital ini adalah sesuatu yang beda dan sangat cepat dikonfirmasi kebenarannya oleh semua yang peduli dan kepo.

Nadiem sedang memberikan keleluasaan kepo dari generasi muda dan pelajar yang tujuannya adalah supaya masing-masing orang bisa tahu dan paham sebenarnya potensi apa yang ada didalam dirinya sendiri, untuk kemudian dikembangkan bagi masa depannya, keluarganya dan bagi Indonesia tercinta.

Semoga Nadiem tetap kalah jago dibanding Anies dalam hal ngebacot penuh busa tanpa makna apa-apa. Salam aibon..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *