Aparatur Sipil Khawarij

Jika bahasannya adalah tentang harapan, maka kejadian bom bunuh diri pasti doanya adalah hal terakhir. Namun jika dikaitkan dengan jaringan terorisme maka ini adalah awal, mereka selalu menjadikan tindakan bom bunuh diri dan teror sebagai awal dari agenda utama mengacaukan Indonesia.

Aksi banci ini adalah sebuah strategi utama dari gerakan jihadis yang terafiliasi pada ISIS dan JAD, yang sangat klasik metodologi, target maupun segmen dari tindakan yang dilakukan. Targetnya adalah Polisi yang khusus Indonesia ada dendam abadi pada Satuan Anti Teror Densus 88 yang banyak mematahkan aksi mereka.

Mulai dari gembong bom Bali, Kuningan, Nurdin M Top, DR Azahari, Bahrun Naim, Santoso dan banyak lagi kejadian adalah mereka yang digulung oleh Densus 88. Dendam klasik ini mempengaruhi respon pada isu terkini terkait pergerakan ISIS dan anasirnya. Dendam atas kematian Baghdadi disalurkan oleh sel-sel mereka di Indonesia dan menggerakkan aksi jihad dari “lone wolf” beraksi.

Indonesia yang demokratis dan cinta keberagaman ini adalah lahan empuk bagi aksi mereka, bisa kamuflase sebagai apapun untuk melakukan “amaliyah” yang diyakini. Jika selama ini mereka bertransformasi, dari model baju pejuang Taliban seperti Amrozi dan Imam Samudera sampai pada bentuk perjuangan ala bom Medan terjadi moderasi pada cara berpakaian.

Dulu identitas mereka kentara, saat ini sudah tidak bisa lagi demikian karena mereka menjadi satu persis seperti masyarakat kebanyakan. Dengan seragam ojol, mereka leluasa masuk obyek vital tanpa dicurigai berlebih karena ojol sudah menjadi bagian dari pop culture era digital. Ini sebuah awal dan era baru perjuangan dari mereka yang sering mangandalkan 1 hadis barangsiapa menyerupai sebuah kaum adalah bagian dari kaum tersebut.

Ajaran Islam dan Hadis jadi dagangan sekaligus bemper aksi biadab mereka dalam merugikan orang lain. Dulu dengan mudah orang bisa mengidentifikasi: setelah lihat pakaian maka lihat cara bicara dan merespon perbedaan mereka akan menunjukkan intoleransi yang tebal dan bahkan merundung lawan bicara, hal itu juga sudah dimoderasi jadi anak gaul dan melek teknologi digital.

Bagaimana menghadapi “Neo Khawarij Digital” ini?

Fakta terkini: Diduga Terpapar Radikalisme, Hampir 800 Ribu Aparatur Sipil Negara (ASN) Tolak Ideologi Pancasila

Ketika sebuah ideologi teror menjadi sebuah aksi dan gerakan, maka yang berlaku adalah strategi dasar dari perang yang bernama kamuflase. Sudah tidak bisa lagi melakukan tuduhan hanya berdasar penampilan, tapi harus ada surveillance (pengawasan ketata) pada rekam jejak masa lalu sampai dengan saat ini. Intoleransi pada tatanan ide dan memprovokasi orang lain untuk melakukan tindakan radikal terkait perbedaan ideologi.

Surveillance ini adalah tugas yang sangat bisa memanfaatkan dsistem digital, jika beberapa tahun lalu adalah masa mengadukan semua yang diduga terpapar radikalisme dan terorisme secara luas, maka saat ini Pemerintah sudah melakukan clustering yang lebih spesifik. Apa itu?

Jika dulu semua laporan masyarakat terntang apapun dan dimanapun dilaporkan pada kanal Pemerintah, maka sekarang ada hal khusus yang lebih mengena dan juga mempermudah pelapor dan Pemerintah terkait adanya paparan radikalisme di aparatur negara atau ASN melalui website aduanasn.id

Jaringan teroris dunia adalah sebuah jaringan paling mapan dan stabil, karena tidak banyak perubahan seperti Pemerintah yang tiap 5 tahun sekali terjadi perubahan. Dengan hal tersebut maka mereka diuntungkan dengan penguatan kader dan juga penguasaan lapangan dengan lebih baik, sedangkan terkait digitalisasi, mereka jauh punya pengalaman bahkan sudah sampai tahap bisa melakukan cuci otak via internet.

Untuk melawan hal tersebut, maka hal yang paling mungkin dilakukan untuk melawan adalah dengan klasifikasi pokok masalah dari akarnya. Jika di Aparatur Negara (ASN) ada yang terpapar, maka lakukan partisipasi melaporkan pada Pemerintah tentang hal ini, menggunakan kemajuan zaman yang ada.

Jika kita sepakat untuk akhiri segala teror yang ada, maka jadilah bagian yang ikut aktif menjaga negeri ini dengan memanfaatkan tehnologi dan kemudahan digital yang ada. Dan yang paling penting adalah bukan sekedar melaporkan, tapi harus kawal terus laporan sampai ditindaklanjuti oleh Negara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *