Kufur Nikmat Al Indunissy

Saya ndak pernah ngerti ekonomi makro padahal kuliah ambil akuntansi dengan IPK pas-pasan, ya gimana dulu pas kuliah kebanyakan ngeband dan mabuk. Sekarang pas sudah kerja baru sedikit paham walau pemahamannya cuma buat belanja gadget, motor, mobil dll. Kehidupan ekonomi saya juga cukup, Alhamdulillah tidak punya utang walau tidak punya rumah wkwkwkwk….

Pidato Jokowi semalam di ulang tahun Nasdem juga menyitir tentang ekonomi Indonesia yang perkasa ketika kondisi Ekonomi Dunia sedang sangat lesu, bahkan beberapa Negara sudah mengalami resesi yang berpengaruh pada semua aspek kehidupan dan kemanusiaan. Ada syukur dan optimisme dari Jokowi ketika pidato, saya masih tidak paham tapi mencoba untuk ngerti.

2 hari lalu Sahabat saya DR Mahmud Syaltout, seorang dosen otaknya “gak ada obat” (istilah anak sekarang) mengunggah status di FB yang cukup menarik dan saya jadi coba baca dan pahami. Ini yang diunggah: The $86 Trillion World Economy in One Chart, dimana disitu ada chart dimana Indonesia masuk ke “Negara kaya” karena berada di 63.1% kategori Negara kaya.

Angka GDP Indonesia adalah US $ 1.04 T atau secara presentase adalah 1.21% mengkontribusi dari total kekayaan dunia yang US $ 86 T diatas

Karena data itu sumbernya adalah World Bank yang diupdate pada Juli 2019, walau saya ndak paham tapi percaya. Kemudian saya mencoba kepo lagi sebuah artikel tentang proyeksi kekuatan ekonomi dunia tahun 2030, menarik sekali karena Indonesia juga disebut disana. Ini artikel terkait: The Biggest Economies in 2030

Sebagai awam yang ndak pintar tapi punya banyak kuota internet dan kepo, mengandalkan kemampuan bahasa Inggris dasar tentunya hal ini menggembirakan. Gembira karena Indonesia sudah muncul di kategori Negara kuat secara ekonomi, yang diproyeksikan menjadi kekuatan ekonomi dunia terbesar ke 4 setelah Cina, India dan Amerika.

Keyakinan ini diperkuat dengan kondisi faktual saat ini, detik ini yang saya rasakan tentunya. Tidak serumit hitungan para pakar ekonomi diatas, tapi saya bersyukur dan optimis dengan ekonomi Indonesia karena berdasar pengalaman. Kenyataan dimana saya sampai detik ini masih bisa bayar beberapa partner kerja dengan layak diatas UMK Jakarta, dan masih bisa foyaa foyaaaa….. (enggak foya foya, itu biar seru aja tulisannya).

Pidato Jokowi semalam benar-benar membuat saya tersenyum dan bersyukur, karena pengalaman itu muncul setelah pengalaman sebelumnya terkait pengetahuan dasar kondisi ekonomi. Indonesia masih tumbuh 5% dimana Negara lain sudah krisis, dan data tersebut resmi dari BPS, angka itu bukan dapat dari mimpi ataupun “nyanggar ndik kuburan”

Yang paling utama dan harus ada didalam hati dan pikiran kita sebagai bangsa Indonesia adalah tetap berusaha keras dan jangan terlena dengan pertumbuhan, karena hidup yang lebih penting bukanlah sekarang, namun kedepan bagi anak cucu kita.

Jangan kufur nikmat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *