Orang ini Dicekal Isi Kepalanya Sendiri

Saya tidak pernah setuju dengan istilah yang dipakai oleh gerakan 212 ataupun anasirnya, bukan karena tidak suka atau benci. Ini pandangan obyektif saja, yang bisa dirunut logika dan disandingkan fakta yang ada. Boleh dimulai dengan klaim 7 juta umat memadati Monas yang hal tersebut jadi sebuah landing page bagi pergerakan ini kedepan.

Jika ingin tahu berapa banyak umat di Monas saat 212 bisa cek di google, banyak media yang beneran hitung dengan cara yang logis dan juga ada data empiris sebagai penguat. Misalnya artikel ini: Reuni 212: Benarkah Klaim 8 Juta Peserta?

Dalam politik, melakukan kebohongan adalah hal biasa dalam strategi propaganda. Bahkan dikenal istilah: Black Campaign dan Negative Campaign, Politik Uang, Framing dll banyak lagi. Dimana hal tersebut wajar digunakan untuk kepentingan kekuasaan yang penting menang, maka semua halal.

Jika Ulama berpolitik, maka yang akan kalah adalah sifat ulamanya dan bergeser jadi umaro. Umaro yang ngulama jauh lebih pas daripada tetap ngaku ulama dimana-mana, tapi apa yang selalu diajarkan adalah tentang bagaimana merebut kekuasaan, bagaimana mengubah dasar negara, bagaimana memenangkan kepentingan.

Ketika seseorang isi otaknya adalah tentang kekuasaan maka yang paling dekat dengan kondisi psikisnya adalah halusinasi. Karena semua fakta yang ada didepan mata berbeda dari apa yang diharapkan, maka akan jadi mahluk denial. Wajar manusia denial karena kecewa, contoh: “loh kog pas dihitung beneran cuma 200 ribu bukan 7 juta seperti klaim kita?”

Bukan menjadi koreksi, tapi justru hal tersebut selalu disebutkan sampai detik ini. Hal ini adalah propaganda politik yang paling sederhana, yang diperkenalkan oleh Goebbels salah satu Jenderal NAZI, tangan kanan Hitler yang akhirnya mati bunuh diri mengidap halu akut. Goebbels pernah menyampaikan: “Jika kebohongan disampaikan terus menerus, maka akan menjadi sebuah kebenaran”

Iya, itu zaman sebelum ada internet dan semua informasi masih dibawah kendali penguasa, sekarang zaman yang beda ketika seorang yang punya kuota internet dan punya akal sehat bisa melakukan klarifikasi terhadap sebuah informasi.

Rizieq Shihab mungkin belum membaca buku Ilusi Negara Islam karya Gus Dur, halaman 8 dan seterusnya disitu jelas sekali menerangkan apa yang selama ini diperjuangka Rizieq Shihab adalah sia-sia. Kondisi faktual ummat di era digital ini persis seperti yang diatas saya tulis, bisa dengan cepat mengklarifikasi apapun. Yang mau baca buku karya Gus Dur: Ilusi Negara Islam bisa download disini.

212 ramai karena mesin politik ikut bermain disitu, lambat laun makin redup karena sudah tidak ada relevansi gerakan dengan keadaan politik yang ada. Pemilu usai maka hingar bingar 212 juga selesai, jika masih akan meramaikan kembali maka isinya ya FPI dan teman-teman simpatisannya saja. Tidak akan besar lagi, sudah ada Menteri Pertahanan yang akan bertindak 🙁

Sekarang ramai Rizieq Shihab dicekal oleh pemerintah, sumber beritanya juga dia sendiri sebagai yutuber handal share video pendek, kemudian diamplifikasi pasukan cyber FPI. Narasinya masih sama, narasi basi dimana Pemerintah melarang Rizieq pulang ke Indonesia, narasi yang ujungnya menyalahkan Pemerintah padahal faktanya apa?

Dia mau pulang atau tidak itu urusan dia sendiri, Pemerintah sudah berapa kali klarifikasi hal ini bahkan Moeldoko pernah akan beliin tiket kalau Rizieq tidak pulang pulang karena gak bisa beli tiket pesawat. Apa tidak menggelikan, nyalahin Pemerintah kemudian wakil Pemerintah bahkan mau beliin tiket pulang?

Harusnya cukup sampai disitu saja, selebihnya adalah dia yang sedang role playing sebagai politisi yang ngomong berbusa-busa tapi tidak ada substansinya apa-apa. Kasihan yang sudah berkali-kali mau jemput Rizieq Shihab di Bandara tapi gagal terus, walaupun loyal tapi sebel juga dong tiap jemput ke Bandara selalu kecele.

Propaganda yang sedang dibangun dengan narasi hingar bingar seperti pulangnya Imam Khomeini saat revolusi Iran juga ketinggian, jauh panggang dari api. Pulang tinggal pulang tidak perlu drama kepanjangan, karena ini sungguh menggelikan bukan mendebarkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *