Pulang, eks ISIS Jauh Lebih Enak Daripada eks PKI

Indonesia dalam kondisi yang serba tidak tentu ketika harus membahas repatriasi WNI eks ISIS, seperti dikirim hantu yang gambaran kekejiannya diluar batas kemanusiaan. Jika Orba menampilkan kekejaman G30S/PKI sebagai hantu dalam bentuk film settingan, maka ISIS adalah footage asli dari gambaran kekejaman yang beberapa tahun lalu menghantui semua platform media.

Masih jelas teringat di kepala pada pertengahan tahun 2016 saat seorang kombatan bernama Abu Jandal Al Yamani menantang Panglima TNI dan akan menggorok satu demi satu TNI, Polri dan Banser yang dia anggap toghut. Walau akhirnya Abu Jandal Al Yamani mati di pertempuran, pesan singkat yang disampaikan oleh Abu Jandal merupakan “highest call” bagi anak muda Indonesia berjuang disana.

Kemudian FPI yang terang-terangan mendukung ISIS dan menganggap ISIS adalah saudara, kemudian baiat Ulama garis keras Indonesia yang bersetia pada Baghdadi. Semua sangat cepat bahkan kita tidak tahu apakah hanya ikut-ikutan trend atau memang berbaiat sesungguhnya. Tentu reaksi keras datang dari NU dan Muhammadiyah saat itu, 2 ormas Islam moderat ini paling keras melawan propaganda ISIS tersebut.

Terorisme merupakan api yang siap menyambar, dan Islam moderat yang adalah sasaran mereka untuk jadi bahan bakar supaya chaos meluas, begitulah blueprint sejak Arab Spring. Dan itulah kenapa organisasi Islam moderat paling keras melawan karena merekalah yang akan dijadikan “tumbal” oleh ISIS dan akhir-akhir ini ada banyak aliran sejak Al Baghdadi meminta untuk gerilya sebagai lone wolf sejak kalah di Raqqah dan Mosul.

Update terkini adalah pada tangga 11 bulan 11 tahun 2019 Turki akan mengirimkan balik tahanan dan eks kombatan ISIS ke Negara asalnya, dimana ada 120 orang yang kembali ke Indonesia. Beberapa Negara menolak dan akan memburu para eks kombatan itu jika berani balik, beberapa Negara menerima dengan syarat tertentu dan Indonesia juga menerima mereka dengan formula-formula khusus.

PBNU juga telah menyatakan sikap kepada Pemerintah supaya ekstra hati-hati ketika menerima eks kombatan dan simpatisan ISIS ini jauh hari sebelum 11/11 terjadi. Data menunjukkan bahwa proses deradikalisasi pada para radikalis ini hanya sukses 30% saja, artinya korban cuci otak ini memang sudah tidak bisa ditolong dan kembali normal lagi, baca: Peneliti: Cuma 30 Persen Teroris Insaf karena Deradikalisasi

Memang sangat berat, namun pilihannya adalah menerima mereka kembali, karena secara hukum menyatakan bahwa bila WNI belum pindah kewarganegaraannya maka dia adalah masih WNI, sedangkan pindah mereka ke Suriah dan Iraq yang mereka sebut sebagai Negara Kekhalifahan Irak dan Syam (Daesh), hanyalah sebuah Negara ilusi tanpa ada pengakuan dunia. Sunggu berat menjadi Indonesia, jika menerima maka resikonya besar, tapi tidak bisa menolak juga proses ini.

Indonesia punya pengalaman pada masa Orba dengan sebutan “bersih lingkungan” dimana anak cucu PKI harus diasingkan dan tidak diberikan akses wajar alias jadi warga negara kelas dua. Itupun tuduhan PKI sebagian besar adalah tanpa ada pengadilan yang jelas, hingga banyak korban yang hidupnya termarjinalkan sampai saat tumbangnya Orba di tahun 1998. Babak baru dimulai dengan mengungkap fakta gelap terkait Orba, dan dasarnya adalah Hak Asasi Manusia.

Eks ISIS ini juga hampir sama, tapi yang ini sudah menjalani persidangan di Turki dan ada beberapa klasifikasi dimana antara kombatan, simpatisan dan keluarga juga ada pemilahan yang jelas. Istilahnya Indonesia sudah menerima barang jadi dan siap diolah sesuai kapasitas masing-masing. Harusnya bisa lebih baik dari yang pernah Negara ini lakukan kepada mereka yang dituduh PKI dan anak cucunya walau tanpa bukti dan putusan pengadilan yang konstitusional.

Dan Pemerintah memang harus ekstra hati-hati seperti yang disampaikan KH Said Aqil Siradj, sumpah setia dan juga pengawasan ketat harus dilakukan karena benyak hal seperti dijelaskan diatas. Dan yang lebih penting adalah, NU selalu berbenturan langsung dan satu Banomnya yaitu GP Ansor dan Banser adalah sasaran utama selain TNI dan Polri.

Karena NU adalah yang pertama paham dan tahu bagaimana ISIS ini masuk dan memaksakan ideologinya, dan Ulama NU lah yang mengkonter di lapisan akar rumput Islam dari kegalauan akibat propaganda ISIS tentang khilafah dan mimpi-mimpinya. Oleh sebab itu pemulangan eks ISIS ini harus menjadi perhatian besar, jangan sampai terjadi korban di Tanah Air, cukup di Suriah dan Irak saja terjadi dan berakhir.

Kejelian NU dalam hal ini tak lepas dari tulisa maha penting dari Gus Dur yaitu: Ilusi Negara Islam yang bisa download e-booknya disini: Ebook: Ilusi Negara Islam, Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia Karya Gus Dur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *