Ketika Nusantara Menyeru, Arab dan Vatikan-pun Bersatu

Alkisah di kota Halab atau sekarang dikenal Aleppo Negeri Syam, terdapat satu Masjid bernama Al Nuqtah yang sangat masyur. Di Masjid yang dulunya adalah biara bernama Mart Ruta, terdapat kisah yang menakjubkan bagi perkembangan Islam. Mart Ruta adalah sebuah tempat dimana biarawan meminta kepada pasukan Yazid untuk membersihkan dan mendoakan kepala Sayyidina Husein.

Bahkan biarawan tersebut membayar sangat mahal kepada pasukan Yazid yang memainkan potongan kepala Sayyidina Husein seperti bola sepak yang ditendang kesana kemari. Kemudian sepakat dan diberikanlah kepala tersebut kepada para biarawan, kemudian dibersihkan, diberikan minyak wangi dan didoakan semalaman. Biarawan di Mart Ruta bukanlah pemeluk Islam, namun mereka melihat ada aura bercahaya pada potongan kepala itu dan meminta mendoakan.

Kisah diatas masyur sekali dan dituliskan pada sebuah buku yang ditulis Syekh Ibrahim Nasralla berjudul “The Traces of Ale Mohammed in Aleppo”. Dan peninggalan batu tempat meletakkan kepala Sayyidina Husein juga masih ada sampai detik ini di Masjid Al Nuqtah yang dulunya biara Mart Ruta. Dan Kenabian Muhammad SAW yang terpancar melalui aura keturunannya menembus semua umat, biarawan dan pendeta yang mengurus kepala Sayyidina Husein adalah buktinya.

Kisah seperti diatas tentu sangat tidak populer karena oleh Wahhabi dan anasirnya dianggap sesat ataupun dicarikan dalil yang pas untuk menyesatkan hal tersebut. Selalu ada “penggembosan” terhadap ajaran kasih Nabi Muhammad SAW, dan yang ditonjolkan adalah bagaimana dalil perang dan sebagainya asal bisa menjustifikasi tujuan mereka yang sungguh transnasional. Menggunakan agama sebagai bumper untuk tujuan duniawi yang mereka mau, keturunan para khawarij!

Menembus batas ruang dan waktu ratusan tahun, Pada 26 Oktober 2018 GP Ansor sebuah organisasi kepemudaan badan otonom NU menggagas hal yang luar biasa momentumnya bagi dunia. Dengan semangat kemanusiaan bagi peradaban dan kedamaian dunia, GP Ansor menyerukan sebuah ikrar yang digagas dan dikembangkan melalui Global Unity Forum dan Humanitarian Islam sejak 2015. Ikrar tersebut disebut sebagai “Seruan Nusantara” dimana mengajak dunia bersatu padu menyebarkan bahwa Agama adalah pendamai bukan pemecah belah.

GP Ansor melawan arus besar yang dihembuskan oleh “The Arab Spring” dimana agama dijadikan landasan untuk kekuasaan politik di banyak negara Arab, dengan solusi yang berbeda yaitu menjadikan Agama sebagai perekat kemanusiaan. Atau Islam Rahmatan Lil Alamin yang di-implementasikan dengan pertemuan banyak agamawan dan budayawan dunia kemudian berikrar untuk menjadikan Agama sebagai sumber kasih sayang dan kemanusiaan, bukan dasar perbedaan dan peperangan.

Kemudian pada bulan Februari 2019 lalu, ditandatangani juga hal serupa yang melibatkan 3 tokoh Agama besar dunia yaitu Paus Fransiskus dan DR Ahmed At-Tayyep Imam Besar Al Azhar. Deklarasi yang disebut “Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Berdampingan” itu berupaya mendorong untuk hubungan yang lebih kuat antara umat manusia. Sebuah langkah besar yang dimulai dari sebuah negeri diujung timur bernama Nusantara, kemudian mendunia.

Urutan tersebut apakah kesengajaan atau bukan wallahualam, tapi satu hal yang pasti adalah “Jangan menggunakan Agama sebagai justifikasi untuk kekuasaan politik duniawi”. Pesan itu sangat kuat dan solid, bahkan Gus Dur selalu menyampaikan bahwa Kemanusiaan harus diatas kekuasaan politik. Seruan- seruan kecil atas persatuan yang menembus batas kepercayaan ini adalah solusi perdamaian dunia. Yang sudah diteladankan oleh Nabi Muhammad SAW pada ummatnya, baik melalui ajaran maupun sunnah yang diteladankan.

Bahkan dokumen yang digagas secara langsung oleh Nabi Muhammad SAW ketika membangun Madinah Al Munawwaroh yang berarti “Kota yang bercahaya” dan dikenal sebagai Piagam Madinah, menjadi sebuah prototype ketika melahirkan Indonesia dengan dasar dan pilar Kebangsaan melalui sebuah kesepakatan dari berbagai macam latar belakang dan suku bangsa, dan menjadikan Agama sebagai perekat utama atas kesepakatan yang akhirnya menjadi Konsensus Kebangsaan.

Semua bermula dari Nusantara, untuk dunia.. Demikian Ronin Bekerja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *