“NKRI Bersyariah” Dagelan Lawas Penjaja Agama

Mungkin FPI adalah satu-satunya ormas yang bisa masuk rekor MURI untuk kategori “Ormas paling sering muncul di media karena rusuh”. Dan celakanya label agama melekat, bahkan jadi bagian dari nama organisasinya yaitu Islam. Kalau dari sisi marketing mungkin sudah benar itu brandingnya, tapi untuk mewakili Islam tentu masih jauh panggang dari api.

Fakta seputar FPI selalu hal yang negatif, bahkan tercatat secara khusus di laman wikipedia, selain media digital tentang aksi negatif FPI. Media nasional sekelas Tempo bahkan menyusun artikel rentetan aksi FPI sejak tahun 1999 atau setahun setelah lahir udah rusuh aja. Baca disini: Rentetan Aksi FPI dari Masa ke Masa

Persekusi adalah sebuah strategi yang selalu ditampilkan, baik elit maupun laskarnya sangat akrab dengan tindakan persekusi. Yang awalnya malu-malu hingga akhirnya membesar dan makin vulgar setelah “disentil” Gus Dur, yang puncaknya adalah peristiwa Monas 1 Juni 2008 yang membongkar topeng FPI sebenarnya. Aksi kekerasan dengan perusakan ditunjukkan vulgar dan diliput media nasional dan internasional.

Bukan memperbaiki menjadi lebih kalem, tapi justru menjadikan peristiwa tersebut sebagai tonggak yang memperkuat positioning mereka sebagai ormas barbar. Selalu menjadi penggerak segala aksi intoleransi, berhubungan dekat dengan politisi penjaja agama dan juga dimanfaatkan oleh kepentingan politik lain. Ada dokumen bocor atau wikileaks yang menyatakan bahwa FPI memang sengaja dibentuk sebagai “Attack Dog” Baca Bocoran Wikileaks: FPI Itu “Attack Dog” Polri

Seolah mendapat banyak legitimasi atas tindakannya yang tidak direspon serius oleh Pemerintah saat itu, FPI makin pede menyampaikan AD/ART tentang dukungannya pada khilafah. Bahkan berceceran jejak digital betapa Rizieq Shihab memuja ISIS dan menganggap ISIS adalah saudara FPI. Tidak cukup sampai situ, elit FPI Munarman juga terekam melakukan baiat pada Baghdadi ISIS.

Perlawanan pada FPI akhirnya terjadi justru saat mereka sukses menjadi pioneer sebuah gerakan bernama 212. Ormas Islam Moderat NU dan Muhammadiyah mendorong Pemerintah harus mulai tegas terkait ideologi Pancasila dan ancamannya dan juga menindak FPI secara tegas. FPI kaget karena sejak lahir baru kali ini ada perlawanan dengan skala Nasional karena menyangkut isu ideologi, sehingga mereka ubah slogan menjadi NKRI Bersyariah.

Slogan cacat yang gagap sejarah, NKRI ini sudah sesuai Syariat Islam dimana nafas utamanya ada dalam pembukaan UUD 1945 terutama tentang anti penjajahan dan menjadi Bangsa yang berdaulat, yang merupakan esensi dari Syariat Islam itu sendiri. Dipertajam lagi dengan kesepakatan Founding Fathers Indonesia yang bersepakat bahwa Pancasila adalah Kalimatun Sawa atau titik temu dari semua perbedaan untuk persatuan.

Jadi, ketika FPI menjajakan slogan “NKRI Bersyariah” akan langsung diuji dari sistem ketatanegaraan karena Indonesia adalah Res Publica atau Negara yang disepakati oleh kehendak rakyat, dengan menjadikan Piagam Madinah sebagai cetak biru penyusunan dasar Negara Indonesia. Sedangkan NKRI Bersyariah ala FPI adalah tentang kekhalifahan berdasarkan ulama mereka yang entah sedang apa dimana berbuat apa. Khilafah dan Republik tidak akan bisa berdampingan, karena Indonesia sudah final sebagai NKRI dengan 4 Pilar kebangsaannya.

FPI sekarang sedang krisis identitas, mengurus SKT juga susah karena bertabrakan dengan UU Ormas yang ada. AD/ART tentang NKRI Bersyariah juga blunder sendiri karena gagal uji. Bahkan disentil Menko Polhukam Mahfud MD bahwa mereka tetap bisa berserikat dan berkumpul seperti arisan kampung yang dijamin oleh Negara eksistensinya.

Pemerintah sedang diuji terkait hal remeh temeh ini, dan sejauh ini cukup memupus harapan FPI untuk menjadi Ormas yang terdaftar secara resmi. Diombang ambing banyak hal yang justru memunculkan kewaspadaan baru bagi beberapa agenda politik 5 tahun kedepan. Dari sisi kekuatan sudah sangat turun, terbukti dari reuni reunian yang makin sepi, dari sisi narasi juga kosong alias hampa. Tapi harus waspada karena ada 2 kekuatan yang mulai merger, sama-sama “tertolak” dari NKRI yaitu HTI.

Yang pasti sampai detik ini HTI masih gerilya terus, terkesan dibiarkan karena implementasi dari kebebasan berpendapat dan berserikat. Melalui aksi klandestein dipojok-pojok kampus mengumpulkan kekuatan basian. Akan bertemu pada jalur kepentingan yang sama dengan FPI dan mungkin akan membentuk sebuah kekuatan baru. Pemerintah harus cerdas dan cepat tanggap terkait hal ini, mereka terlatih untuk rusuh dan punya pengalaman untuk menggunakan Agama sebagai landing page aksi besar mereka untuk proposal pada bohir politik kepentingan.

Waspadalah!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *