ISIS dicarikan dalil untuk pulang, kemana dalil kalian saat mereka gorok leher orang?

Supporter ISIS ini memang menjengkelkan, rata-rata adalah mereka yang terafiliasi sebagai so called budayawan dan aktivis HAM. Berjuang bersama PKS memperjuangkan kembalinya ISIS ke Indonesia dengan bermacam dalil yang memuakkan. Cluster pendukung pengembalian ISIS ini berisi 3 unsur: Aktivis, Partai dan Pemerintah.

Tidak perlu kajian yang dalam atau analisa ndakik-ndakik yang bikin pusing, ocehan mereka yang terafiliasi dalam gerakan HAM untuk ISIS ini sedang unjuk gigi. Modalnya wawancara dari stasiun TV yang cukup viral, narasinya adalah “mereka sudah tobat” “ayo beri mereka kesempatan” sampai yang paling bangke adalah “apa bedanya kalian dengan ISIS”.

Aktivis dan Budayawan kenapa tiba-tiba intens menyuarakan penegakan HAM atas ISIS? 2 hal yang menjadi jawaban: pertama dapat proyek dari anasir khilafah dan yang kedua caper. Kemudian partai, PKS yang terang benderang membandingkan Corona dan ISIS kenapa perlakuannya beda, murni ini sedang jualan dagangan dengan nilai yang sangat besar (dari Cina) dan belum ada tanda dibeli. Ketiga adalah Pemerintah: ini murni untuk stabilitas pemerintahan, kudu ada ribut biar ada kerjaan proxy proxy gitulah.

Masih ingat saat Anis Matta membuat sebuah puisi untuk Osama Bin Laden? Itu cara jualan khas Ikhwanul Muslimin, nyenggol isu sangat sensitif diatas hak atas kebebasan berpendapat. PKS adalah “libtard” sesungguhnya, apa itu libtard? Liberal Bastard, dandanannya kanan tapi otaknya selangkangan.

Coba silakan tracking 3 variabel tersebut, dimana suaranya saat ISIS menggorok kepala banyak orang di Irak dan beberapa bagian Negara yang dijadikan markas oleh ISIS. Adakah yang berteriak HAM atas kekejaman yang masif ditayangkan media saat itu? Adakah yang lantang bicara didepan mengutuk kekejaman mereka dalam usaha penegakan khilafah?

Pemerintah ya begitu-begitu saja, gagu saat ada upacara hari kemerdekaan ada pawai khilafah dan berkibar bendera HTI dimana-mana. Gagu karena butuh proxy supaya tetap eksis kelihatan kerja. Ingat saja, ketika urusan ISIS dijadikan momen untuk membuka proxy, yang didapatkan bukan eksistensi tapi nunggu hari saja kapan Indonesia jadi panggung gorok-gorokan leher dan potongan kepala menggelinding di jalanan dan pasar dengan darah amis dimana-mana.

Saya hanya berharap, jika ISIS dikembalikan ke Indonesia tolong diinapkan langsung ke mereka para budayawan, partisan dan pemerintah yang mendukung pemulangan mereka ke Indonesia. Jika perlu langsung ditindaklanjuti Dinas Dukcapil untuk update KK, masukin aja jadi bagian dari keluarga mereka.

Membosankan sekali isu (pemulangan ISIS) ini dan dibiarkan menjadi bola salju tanpa kendali, kita tunggu saja seberapa besar bola ini sampai Indonesia. Saat itulah terjadi apa yang ada di film Purge Anarchy, keyakinan dan kepercayaan terhadap penyelenggaraan kekuasaan yang sah jadi sebuah titik yang paling tidak bisa dipercaya oleh rakyat. Apakah hal itu mungkin terjadi di Indonesia? Sangat mungkin, negeri ini sangat demokratis bahkan ada ruang nyaman dengan AC yang dingin bagi mereka yang merongrong kedaulatan negerinya sendiri. Dan dijamin Undang Undang kiprah dan proposal-proposalnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *