Petani tidak akan pernah Work From Home

Semua pikiran, emosi, berita dan juga diskursus tumpah pada satu hal yaitu covid-19. Setiap saat menjadi berita, ada yang menganggap remeh ada pula yang sampai pada titik parno (paranoid) yang cukup tinggi. Inilah zaman pandemi atau serangan wabah yang sudah mendunia. Tidak ada tempat untuk berlari, bukan karena tidak mampu tapi seluruh dunia mengalami hal yang sama.

Beberapa ahli dan juga obrolan warung kopi berteori ribuan, tentang mitigasi, tentang bagaimana menjalani kehidupan kedepan dan juga tentang harapan. Beberapa juga berteori dan bahkan ada yang memvonis diri bahwa dia kena convid-19 dan akhirnya bunuh diri (Solo).

Ditengah polarisasi antara harapan dan depresi ada yang tetap berjuang untuk kelangsungan hidupnya dan keluarganya. Tidak kurang dan tidak lebih hanya untuk hidup dan bekerja saja. Mereka adalah Petani, tokoh yang selalu dipaksa dibelakang layar karena kotor dan kita masih tiap hari makan apa yang mereka produksi.

Tokoh yang dipaksa selalu dibelakang layar dan dimarginalkan itu kini masih tetap bekerja untuk hidupnya, dan berproduksi untuk perut kita semua. Perut Indonesia, negeri yang konon agraris dan zamrud khatulistiwa sambil kita melupakan jasa Petani (apakah pikiran kita nasi yang kita makan adalah perkara keniscayaan atas besarnya iman kita? Berasnya siapa yang tanam?

Dan saat ini pandemi covid-19 memaksa semua untuk Work From Home dan tetap kebutuhan harus dipenuhi. Kita berteori kemudian tentang apa itu higienis, apa itu social distancing bahkan dunia sedang menutup diri dari semuanya termasuk hal yang dinamakan religi.

Pertanyaan sederhana, apakah kita rela dan mau jika petani juga ikut WFH? Mungkin akan jadi kiamat yang datang terlalu cepat untuk hal itu di pikiran kita. “Jangan dong, kita saja yang WFH tapi petani ya harus bertani untuk memenuhi kebutuhan pangan kita semua”

Tanpa kalian suruhpun petani tetap ke sawah dan ladangnya memelihara apa yang ditanam dan akhirnya kita santap disaat kita WFH. Disaat kita selalu tampil higienis, petani harus tetap kena lumpur dan kotoran. Panas dan hujan mereka harus tetap bekerja ke lapangan, untuk kita.

Jika krisis ini berkepanjangan, pernahkah terbersitt di otak kita semua bahwa apa yang kita makan akan habis karena dikeroyok 264 juta jiwa penduduk Indonesia. Pernahkah kita berfikir sejenak dengan sedikit kejernihan hati dan pikiran, ada nyawa yang tidak akan pernah bisa WFH dan Social Distancing karena kita semua.

Hadratussyekh Hasyim Asy’ari pernah berpesan, bahwa yang akan menyelamatkan Indonesia adalah petani. Dimana kita saat ini dengan semua kesibukan kita? Pernahkah kita berfikir tentang petani sebentar saja, dan apa yang akan kita lakukan untuk mereka yang menyangga hidup kita?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *