Cinta Indonesia Tak Terbalas?

Beberapa hari lalu nonton film Susi Susanti : Love All, yang menurutku amat sangat menari dari berbagai aspek. Ada kenangan indah, dimana film ini sangat menarik baik dari sinematografi, alur cerita, dan juga pengalaman penonton. Sebuah biopic yang lebih keren dibanding A Man Called Ahok (Ini Ahok sampaikan sendiri ketika premiere)

Yang menarik dari film ini adalah pesan kuat tentang nasionalisme, yang dikemas dengan sangat sederhana namun sangat tertanam dengan kuat. Kita semua tahu Susi Susanti adalah bagian dari sejarah Indonesia, yang menyumbangkan Emas Olimpiade untuk Indonesia.

Dimulai dari seorang anak yang punya talenta luar biasa dalam bulu tangkis, hingga membawa Susi Susanti mengharumkan Indonesia. Itu saja yang saya tahu dan paham tentang Susi Susanti, masa kecil dan cita besarnya untuk Indonesia juga saya yakin banyak yang tidak tahu. Bahkan tangisan Susi Susanti ketika mengharumkan Indonesia saat keluarganya dijarah karena rusuh 98 juga baru tahu beberapa tahun ini.

Semua perhatian hanya tertuju pada Susi Susanti peraih emas Olimpiade, itu saja tanpa kita tahu ada hal yang teramat patut untuk diteladani dan menjadi semangat bagi generasi Indonesia saat ini. Kenapa? Susi Susanti adalah satu dari sekian banyak “minoritas” di Indonesia. Dia Cina, Kristen, Atlit Wanita dan beberapa predikat “Double Minority” yang harus dia bawa sejak kecil.

Pada satu titik, Susi Susanti marah besar bukan karena predikat dia yang termarjinalkan di Indonesia tumpah darah kelahiran dia. Marah besar bukan karena prestasi yang sedang turun dan tidak ada yang membantu. Susi Susanti marah besar karena Indonesia menolak cintanya, pedih hatinya saat cintanya bertepuk sebelah tangan.

Pengorbanan jiwa dan raga, bahkan sampai orangtuanya menjadi korban kerusuhan di Indonesia yang dia cintai dengan mengharumkan namanya di dunia internasional tidak ada artinya bagi Indonesia. Indonesia saat itu terlalu angkuh menerima cinta Susi Susanti, hingga tumpah kemarahannya pada saat press conference tanpa ada yang bisa membendungnya.

Saya hanya bisa membayangkan, jika saya jadi Susi Susanti maka akan pergi dari negeri ini, toh seluruh dunia saat itu “ngiler” ingin meminang Susi Susanti untuk memperkuat tim badminton masing-masing, yang terkesima dengan prestasi Susi Susanti yang tidak pernah putus mengibarkan Sang Merah Putih di podium kejuaran badminton dunia.

Indonesia sedang krisis, dan tawaran pindah kewarganegaraan mengalir deras untuk atlit pelatnas badminton yang saat itu. Tapi Susi Susanti tidak pernah memilih untuk pindah, karena yang diinginkan Susi Susanti bukan gelar, uang, kedudukan, popularitas dan semua kenikmatan apapun.

Susi Susanti hanya butuh satu hal, Susi butuh Indonesia.

Sambil menangis, Susi Susanti diwawancarai media internasional karena saat pertandingan itu tepat dengan kerusuhan yang terjadi di Indonesia 1998 dan Susi harus membawa Indonesia menang ketika rumah orangtuanya di Tasikmalaya dirusak dan nyaris dibakar massa.

Susi Susanti harus menang demi Indonesia, ketika Indonesia tidak bisa melindungi keluarganya dari kerusuhan besar 1998.

Itu belum seberapa, selama hidup Susi Susanti tidak pernah menjadi Warga Negara Indonesia, karena pada saat itu ada aturan yang mengharuskan warga negara keturunan harus memiliki SBKRI (Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia). Sebuah surat yang dikeluarkan oleh Indonesia kepada siapapun warga negara keturunan Cina.

Bahkan saat Susi Susanti berjuang bagi harumnya Indonesia negeri yang sangat dia cintai, Susi Susanti belum diakui sebagai Warga Negara Indonesia. Perjuangan cinta yang lebih parah dibanding kisah cinta apapun yang ada di film-film atau novel best seller adalah perjuangan cinta Susi Susanti untuk Indonesia.

Rusuh 98 adalah klimaks dari daya upaya seluruh Indonesia termasuk Susi Susanti, Indonesia lahir baru dengan kebangkitan nilai Hak Asasi Manusia dan memerangi semua kebusukan yang ada dan dirasakan segenap bangsa Indonesia, termasuk Susi Susanti.

Cinta Susi yang bertepuk sebelah tangan akhirnya diterima Indonesia dengan hangat, Susi menjadi bagian utuh dari Reformasi Indonesia. Dan hal ini tidak membuat Susi Susanti besar kepala atau berubah. Cintanya pada Indonesia tetap abadi, dan sampai detik ini Susi Susanti masih berkiprah untuk badminton Indonesia di PBSI.

Susi, terimakasih untuk cintamu bagi Indonesia.

Pahlawan, antara Karakter dan Reputasi

Character is like a tree and reputation like a shadow” ~ Abraham Lincoln

Indonesia adalah sebuah Bangsa besar yang bersatu menjadi Negara Res Publica berbentuk kesatuan bukan persemakmuran. Jika kita detailkan hal tersebut, Indonesia dilahirkan melalui pemufakatan dimana founding fathers sudah sangat pas dan tepat melahirkan bentuk negara ini beserta konsensus-nya.

Keunikan ini bisa dibilang satu-satunya di dunia, dimana negeri yang geografisnya mirip dengan Indonesia seperti Jepang dan Philipina tidak melakukan hal yang sama. Jepang adalah kekaisaran yang terdiri dari kadipaten-kadipaten namun bangsanya satu yaitu Jepang saja. Philipina mengadopsi perserikatan seperti Amerika dimana masing-masing negara bagian berdiri secara otonom.

Indonesia lebih unik, bangsanya sangat banyak ada Jawa, Batak, Papua, Dayak, Minahasa, Bali dan banyak lagi suku yang ada. Kerumitan Indonesia dari sisi bangsa sangat mirip dengan Madinah era Rasulullah dimana semua keragaman bersatu untuk sebuah tujuan bernegara. Bahkan sejak bermula juga sama, pakai nama “Piagam” sama seperti Madinah.

Negara yang lahir dengan konsensus seperti Madinah dianggap cocok dan pas dengan kondisi Indonesia. Ada keberagaman dan ada mayoritas, dimana sifat utama konsensus dan pemufakatan yang dilandasi jiwa rela untuk mengalah. Pancasila yang menjadi dasar Negara Indonesia adalah sebuah karakter ratusan bangsa yang menjunjung Indonesia.

Piagam Jakarta 22 Juni 1945 adalah titik awal dari falsafah kebangsaan, dimana jutaan kepala bangsa Indonesia bersatu dan bersepakat melalui tim yang luar biasa. Pemikir, Tokoh Agama, Pejuang, Pemuda dari berbagai macam latar belakang Agama, Suku, Golongan bersepakat pada satu hal yaitu Indonesia.

Apakah kita jauh lebih mengenal KH Wahid Hasyim putra dari Hadratussyekh Hasyim Asy’ari dibanding Pahlawan yang lain kita kenal seperti Soekarno – Hatta? Popularitas tidak berbanding lurus dengan khidmah, dan Indonesia memang memerlukan Soekarno – Hatta sebagai “Icon” revolusi Indonesia dan pergerakan kemerdekaan.

KH Wahid Hasyim adalah seorang Ulama dan juga pejuang yang kiprahnya luar biasa bagi Indonesia. Jika diruntut maka KH Wahid Hasyim adalah bapaknya TNI melalui garis Laskar Hizbullah yang gegap gempita mengorbankan diri bagi Indonesia di peristiwa Surabaya 10 November 1945.

Di zaman pendudukan Jepang, KH Wahid Hasyim adalah seseorang yang secara khusus ditugaskan oleh Hadratussyekh Hasyim Asy’ari membentuk laskar yang dilahirkan dari Santri dan Pemuda Ansor (ANO). KH Wahid Hasyim yang memberikan sebuah tempat berlatih perang bagi laskar di Cibarusah, padahal saat yang sama Jepang juga sedang merekrut pemuda Indonesia untuk jadi Heiho.

Pada saat perundingan Piagam Jakarta, KH Wahid Hasyim adalah salah satu tokoh yang berjiwa besar demi Indonesia dan meneladani Nabi Besar Muhammad SAW saat melahirkan Piagam Madinah. Mengedepankan cita-cita kebangsaan diatas kepentingan golongannya sendiri.

Sikap mengalah untuk kepentingan bangsa inilah yang sekarang menjadi nyawa dari sebuah nilai bernama “musyawarah mufakat”. KH Wahid Hasyim mengajarkan hal penting itu dengan mempraktekkan sendiri sebelum meminta orang lain untuk melakukan. Karakter kuat seorang pemimpin besar yang rendah hati dan tidak butuh panggung penuh sorotan lampu dan perhatian.

Bahkan KH Wahid Hasyim diberikan wasiat oleh ayahandanya Hadratussyekh Hasyim Asy’ari untuk tetap menjaga dan berjuang demi tegaknya Pancasila yang seperti sekarang kita kenal. Menjaga sebuah kepentingan kebangsaan diatas kepentingan golongan adalah nafas perjuangan dari KH Wahid Hasyim, dimana wasiat ayahanda beliau dijaga sampai ke putranya yang pernah menjadi Presiden Republik Indonesia, Gus Dur…

Gus Dur adalah Pahlawan Nasional yang jauh melampaui segala hal yang ada di Indonesia era kemerdekaan. Bahkan Gus Dur adalah seorang Presiden yang sangat enteng melepaskan jabatannya jika hal itu adalah yang terbaik bagi Indonesia.

Kebesaran hati dan kelegaan fikiran adalah sebuah karakter yang sangat kokoh hingga diterjang angin tidak goyah sedikitpun, dan mampu memberikan keteduhan bagi segenap anak bangsa ini, dalam mengisi kemerdekaan. Dari mereka, Indonesia menjadi negara kuat dan rukun satu sama lain.

Pahlawan yang berkarakter tentu jauh amat sangat dirindukan di sanubari segenap anak bangsa, terimakasih para Bapak Bangsa yang mengajari makna dan nilai “Mengalah bukan berarti kalah”

Alfatehah kagem panjenengan samya

Tan Malaka Versus Dunia

Setelah memikirkan judul apa yang paling tepat untuk tulisan ini, akhirnya judul itulah yang paling tepat dan saya rasa paling pas untuk tulisan pendek berikut ini.

“Bahkan satu menit pun kedaulatan rakyat Indonesia tidak boleh ditunda-tunda, dan kebulatan kemerdekaan kita tidak boleh dikurangi. Sekali merdeka, tetap merdeka!” Tan Malaka 21 Desember 1948

Jika kita mengenal tokoh besar perjuangan bangsa ini yang tidak setenar para pahlawan yang umum dikenal di sekolah ataupun media, mungkin Tan Malaka adalah tokoh besar yang benar-benar dikubur untuk dilupakan.

Jika lahir di era Orde Baru tentu nama Tan Malaka tidak akan pernah dikaji dan dipelajari, padahal Tan Malaka adalah Pahlawan Nasional yang dikukuhkan melalui SK Presiden RI No 53/1963. Seorang yang bukan saja dilupakan, namun dihilangkan oleh mereka yang diperjuangkan oleh Tan Malaka.

Soekarno – Hatta memperjuangkan Indonesia melalui tulisan yang menjadi sebuah kekuatan bagi segenap anak bangsa bangkit. Moh Hatta menulis “Indonesia Merdeka” pada tahun 1928, Soekarno menulis “Indonesia menggugat” pada 1933. Dan Tan Malaka menulis “Menuju Republik Indonesia” pada 1925, dimana tulisan dia memberikan nafas perjuangan bagi Soekarno – Hatta itu sendiri.

Tak berlebihan jika Bung Hatta menyebut bahwa Tan Malaka adalah Bapak Republik Indonesia yang sekelas George Washington menurutnya.

Tan Malaka adalah seorang pembelajar, kualitas otak diatas rata-rata dimana dia juga seorang poliglot (mampu dan menguasai banyak bahasa). Tan Malaka adalah seorang marxis dan pernah menjadi pemimpin PKI pada tahun 1921 menggantikan Semaoen.

Tan Malaka kelas ributnya adalah dunia, Joseph Stalin pemimpin Komunis dari Rusia adalah lawan utama Tan Malaka karena Tan Malaka menolak rencana perlawanan bersenjata PKI pada 1926 sehingga geger PKI melawan Hindia Belanda yang pertama itu gagal. Dan Tan Malaka dibenci oleh tokoh PKI, seorang marxis yang dibenci oleh PKI.

Jika Soekarno – Hatta saja sangat menghormati dan beberapa tokoh kemerdekaan menyebiut Tan Malaka sebagai “Guru Besar”, maka kita bisa bayangkan seperti apa kiprah dan kontribusi Tan Malaka bagi Indonesia.

Kisah Tan Malaka tidak ada yang manis, sisi romantis satu-satunya yang bisa didapatkan dari Tan Malaka adalah bagaimana dia “menggauli” Indonesia sepenuh-penuhnya dan akhirnya berkalang tanah oleh orang yang dia merdekakan. Konsep “Merdeka 100%” adalah hal yang membedakan Tan dengan founding fathers lainnya. Jika dulu kita selalu diajarkan segala hal tentang perjuangan “diplomasi”, maka Tan Malaka adalah antitesa semua itu.

Tan Malaka adalah sebuah perlawanan yang tidak pernah padam bahkan murid Tan, Soekarno dan Hatta juga kerepotan dengan manuver Tan yang seringkali radikal dan memilih jalan perang melawan daripada berunding. Tan sudah bosan dengan segala ingkar perundingan Linggajati dan Renville.

“Jika kita masih tetap percaya pada Proklamasi, dan tidak akan melakukan pengkhianatan terhadap para pahlawan, yang telah mempertahankannya dengan memberikan hidup mereka, maka seharusnyalah kita kembali pada semangat Proklamasi, pada bambu runcing”

Tan adalah seorang anti kolonialisme, anti imperialisme dan anti kapitalisme yang amat sangat radikal. Hidupnya habis untuk berjuang dan menjadi rakyat biasa, jadi penjual es dan juga mengajar beberapa “sekolah” perjuangan bagi generasi penerus. Yang kemudian langkah dan gerak yang dia lakukan dirasa menjadi ancaman bagi kekuasaan yang baru saja lahir di Indonesia.

Tan Malaka adalah dirinya sendiri, yang tidak berafiliasi pada siapapun kecuali pada sebuah cita-cita besar “Republik Indonesia” yang berkarakter, bernyali dan tanpa kompromi dengan musuh. Ah terlalu banyak, ribuan bahkan kata-kata pendek dari Tan Malaka yang sampai detik ini selalu membuncah jika dibaca kembali.

Melalui batas ruang dan waktu, ada tokoh sederhana yang dikagumi para pendiri bangsa namun dia dilupakan, dibuang bahkan dibinasakan oleh bangsa sendiri. Tidak terlalu berlebihan jika Bung Hatta menyebut Tan Malaka adalah “Bapak Republik Indonesia” yang sekelas George Washington, sang pendiri Amerika Serikat.

Bhinneka Antitesa Puritania

Islam garis keras bukanlah prilaku, tapi ideologi yang rigid dan “kekeuh” memperjuangkan sesuatu yang mereka anggap benar. Apakah Islam garis keras mengalami moderasi dalam ideologinya?

Pada awalnya tidak, bahkan Imam yang melahirkan paham Wahabisme sendiri, Muhammad Bin Abdul Wahab adalah seorang ulama yang sangat ahli dalam hal fiqih sebelum akhirnya berkenalan dengan Muhammad Bin Saud seorang emir (penguasa) dari Diriyah.

Kejayaan Islam yang merupakan sebuah masa emas kerajaan Islam sejak Khulafaur Rasyidin sampai Otsmani menjadi dasar dari “perkawinan” Abdul Wahab dan Ibnu Saud. Kerinduan pada konsep Islam menguasai dunia secara literer inilah dasar dari sebuah kebangkitan Islam garis keras sampai sekarang ini.

Semangat perjuangannya adalah puritan, bukan dakwah yang membumi. Tujannya adalah menjadi penguasa yang beragama Islam dengan syariah-syariahnya, bukan membumikan Islam menjadi Rahmat bagi seru sekalian alam. Dengan penaklukan, bukan dengan akulturasi budaya seperti Wali Songo.

Awal abad 20 lahir sebuah Kerajaan yang disusui Inggris raya untuk menjadi proxy terkait penguasaan minyak di jazirah Arab. Kerajaan itu bernama Saudi Arabia, yang ideologinya adalah Wahabi dan semangatnya adalah puritanisme. Dan dari kerajaan itulah akhirnya lahir banyak gerakan pro dan kontra namun nafasnya sama yaitu penaklukan dan perang.

Lahirnya Saudi Arabia dan Wahabisme melahirkan banyak sekali gerakan, dari Indonesia lahir Nahdlatul Ulama yang merupakan organisasi “khas” karena lahir sebagai antitesa Wahabisme yang sangat keras menerapkan Islam secara literer. Salah satu yang sangat ditentang NU adalah pembongkaran makam Keluarga dan Sahabat Nabi Muhammad SAW.

Mesir yang merupakan pusat ilmu dari Islam modern juga melahirkan sebuah gerakan yang beda dengan Wahabi tapi sama tujuannya adalah dominasi Islam menundukkan dunia. Moderasi Garis Keras oleh Hasan Al Bana dan Sayyid Qutb mengilhami gerakan Islam kampus, para cendikia bukan hanya ahli fiqih lagi. Atau sebuah kemajuan dari sebuah gerakan yang selain menajamkan senjata juga indoktrinasi ideologi.

Semua gerakan diatas yang bukan dari Indonesia cirinya adalah anti keberagaman, yang paling benar adalah mereka dan yang lain salah. Dan selalu merasa lebih Islam dari yang lain, sebagai legitimasi kekerasan yang mereka lakukan adalah sudah sesuai akidah dan Islam yang benar.

Latar belakang mereka juga sangat mendukung hal ini, karena budaya perang antar Kabilah demi kekuasaan dan makanan merupakan budaya di gurun menjadi ciri gerakan ini. Beda dengan Indonesia dimana sebelum agama Islam masuk, hidup di Nusantara tidak perlu perang bisa makan karena semua sumber makanan tersedia melimpah.

Bahkan kalau dikaji, pelaku terorisme di Indonesia rata-rata adalah kombatan dan pelajar di negara konflik seperti Afghanistan, Suriah, Irak, Iran dan negara timur tengah lainnya. Karena untuk mendoktrin para pelaku tersebut dibutuhkan suasana dan pengalaman asli sehingga merasuk ke sanubari dan bisa melakukan itu dimanapun, seperti pelaku bom bali misalnya.

Era digital sudah beda lagi, cuci otak cukup lewat internet dan sudah terbukti dilakukan oleh sel Bahrun Naim dan Santoso di Poso. Kemajuan tehnologi yang sedemikan pesat ini dimanfaatkan oleh mereka yang puritan dan punya kepentingan untuk menundukkan dunia dengan memanipulasi Islam.

Saya pribadi berpendapat bahwa mereka yang sekarang pakai baju HTI, ISIS dan sebagainya akan sangat sulit masuk ke Indonesia jika kita menjaga negeri ini dengan semangat Islam Rahmatan Lil Alamin yang dibawakan oleh Wali Songo. Islam yang menyatu dan menjadi bagian dari Indonesia bahkan sejak negeri ini masih Nusantara saja.

Melestarikan budaya yang luar biasa kaya keberagamannya ini adalah senjata paling ampuh untuk menghalau mereka yang radikal. Perjuangan kelompok Islam garis keras ini akan mulus jika alamnya terkondisi seragam dan sesuai dengan apa yang mereka yakini sebagai akidah. Tapi untuk masuk ke Indonesia hal ini adalah PR yang sangat berat, walau mereka punya pengalaman yang cukup panjang untuk hal ini.

Maka narasi utama kelompok Islam Garis Keras adalah membid’ahkan semua yang tidak sesuai dengan apa yang mereka yakini sebagai akidah. Walau kadang tidak konsisten, justru mereka yang paling bid’ah dari sisi tehnologi. Mereka punya stasiun TV, punya kemampuan memainkan SEO, punya cara jitu mengembangkan google adsense dll.

Itu baru sisi tehnologi digital terkini, belum lagi penguasaan yang lain dimana kadang mereka juga tidak ragu untuk masuk sistem demokrasi yang sangat bid’ah ini. Mereka gunakan apapun untuk mencapai tujuannya, mungkin jika makan kotoran sendiri diyakini bisa memuluskan perjuangannya juga pasti akan mereka lakukan.

Mentalnya beda, dunianya beda, alamnya beda, budaya dan kearifan lokalnya juga berbeda. Namun jika mereka konsisten melakukan hal ini dan kita sebagai bagian dari anak bangsa yang masih mencintai Indonesia dengan Bhinneka Tunggal Ika-nya biasa-biasa saja, ya sekuat apapun karang akan hancur dikikis gelombang yang konsisten.

Demikian, mari kuatkan budaya lokal Indonesia yang sangat beragam ini tetap lestari supaya intoleransi, radikalisme dan terorisme tidak bisa masuk ke Negeri yang sangat kita cintai ini.

Peran Indonesia dalam Membangkitkan Jalur Sutra

Hal paling menarik dan menyita perhatian pada Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN-RRT ke 22 di Bangkok Thailand adalah pidato Jokowi tentang sinergi Master Plan on ASEAN Connectivity (MPAC) 2025 dan Belt and Road Initiative (BRI) menjadi sebuah keniscayaan.

Keniscayaan adalah kata kunci yang disampaikan oleh Jokowi di KTT Kepala Negara ASEAN dan RRT kali ini. Artinya apa? Sesuatu yang tidak bisa dihindari, atau jika menghindar maka Indonesia akan banyak ketinggalan dan merugi, karena seluruh dunia sudah melakukan hal tersebut.

ASEAN connectivity adalah reborn kemasyuran tempo dulu, yaitu Jalur Sutra. Sebuah istilah yang berangkat dari sebuah konektivitas dagang yang menghubungkan Chang’an sampai Suriah, bahkan mempengaruhi Jepang dan Korea. Kenapa demikian spesial? Karena budaya manusia modern tak lepas dari pengaruh budaya yang disebarkan oleh jalur sutra. Apa itu ASEAN connectivity, detailnya ada disini: Silakan Klik

Bahkan istilah jalur sutra justru muncul mendunia dari seorang ilmuwan asal Jerman yang demikian terinspirasi dan akhirnya Eropa juga melakukan hal yang sama. Jalur sutra adalah sebuah prasarana pendukung pertukaran budaya yang diawali dari perdagangan.

KTT ASEAN membahas hal ini karena dipandang sangat penting untuk Ekonomi dunia pada umumnya, dan terkhusus adalah Asia dimana jalur tersebut paling banyak berada di Asia dan ASEAN – RRT adalah inti dari konektivitas ini. Dengan terkoneksi maka sirkulasi akan mudah, ketika sirkulasi mudah maka biaya akan rendah.

Jika biaya rendah, maka ekonomi akan bergulir dan pertumbuhan akan pesat dan pasar menggeliat. Apakah Indonesia akan melepaskan kesempatan luar biasa ini? Tentu tidak, bahkan sebuah keniscayaan karena Indonesia adalah Negara 3 besar di ASEAN baik dari sisi pasar maupun cakupan wilayah.

Jokowi saat ini di periode kepemimpinan yang kedua ingin menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia siap bersaing dan menyukseskan ASEAN Connectivity karena alasan diatas. Dan untuk meyakinkan niat tersebut, Jokowi menunjukkan kemajuan Indonesia di bidang infrastruktur, yang merupakan modal besar bagi rencana Jalur Sutra tersebut.

Negara ASEAN dan RRT disuguhi kemajuan Indonesia terkait akses dan kemudahan yang dibangun. Tol Laut, Bandara yang ada disemua titik Kabupaten, Investasi yang tumbuh dan juga kesiapan mental dari bangsa besar ini. Indonesia adalah “gate keeper” dari rencana besar Jalur Sutra ini karena posisi geografis yang secara alami memang mengharuskan kontribusinya bagi dunia secara umum dan Asia khususnya.

Keniscayaan yang disampaikan oleh Jokowi pada pidatonya di KTT ASEAN RRT adalah sebuah wake up call bagi Indonesia untuk berbenah cepat dan mematangkan semuanya. Karena ketika ASEAN Connectivity mulai digaungkan pada 2025 kelak, maka Bangsa ini akan menjadi saksi sejarah betapa pentingnya peran generasi Indonesia mendatang dalam turut serta memajukan dunia.

Demokrasi Antibody Superbody

Ketika membicarakan KPK, yang paling menarik buat saya adalah pendapat Fahri Hamzah. Bukan karena seneng atau sebel, tapi konsistensi Fahri ketika mengkritisi KPK dalam segala isu, baik terkait sapi PKS sampai detik ini. Kita tidak akan lupa bagaimana Fahri Hamzah melawan KPK dengan narasi bahwa komisi itu telah melakukan hal dasar pelanggaran prinsip “transisi demokrasi”

Bahkan sampai menulis beberapa buku terkait perlawanan dia, yang menarik adalah analogi Fahri Hamzah “demokrasi membuka sebuah ruang tertutup sehingga kecoa dan tikusnya kelihatan semua” Sedangkan KPK dia rasa sudah jauh dari transisi demokrasi, sangat tertutup dan power yang besar yang dimiliki KPK tidak bernafas dalam “transisi demokrasi” pilar utama gerakan reformasi.

Yang sedang ramai saat ini adalah wacana dewan pengawas KPK, yang sangat ramai dan terjadi “twitwar” terkait denwas. Bahkan Novel Baswedan penyidik KPK mengancam akan mundur dari KPK. Setelah komisioner dan ketua KPK menyatakan mundur (padahal gak mundur-mundur), disusul Novel yang mengancam mundur (tapi boong).

Seberapa penting sih dewan pengawas KPK ini? Sehingga satu pihak setuju dan pihak lain tidak setuju dengan narasi “pelemahan KPK”. Banyak dasar hukum dan juga tanggapan pakar yang mungkin bisa diperdebatkan. Tapi satu hal, KPK menolak dewan pengawas ini adalah hal yang sangat melanggar prinsip demokrasi. Kali ini saya setuju Fahri Hamzah.

Demokrasi harus memiliki kontrol, yang disebut check and balancing supaya nyawa demokrasi (equality) tetap berjalan dan lestari. Jika ada penolakan terhadap pengawasan, wajib dipertanyakan motifnya apa? Jika masih memaksakan “pelemahan KPK” tentu tidak pas, toh sampai detik ini KPK masih lakukan OTT dimana OTT adalah apa yang dilihat awam sebagai suksesnya KPK.

Pernahkah KPK dicek badan lain dan dipublish seperti KPK mempublish temuan-temuannya? Masyarakat tidak pernah melihat hasil pemeriksaan atas KPK, sehingga KPK ini kesannya suci sekali. Padahal di negara demokrasi tidak mengenal asas “suci” sebuah lembaga. Hal ini adalah sangat mendasar dan jangan dilanggar, nanti jadi superbody dan semaunya.

Kemudian dari sisi legalitas, apakah sah penunjukan Dewan Pengawas KPK ini? Sah dan jika mau meramaikan harus melalui sistem hukum lagi. Kenapa demikian? Karena dasar penunjukan adalah Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang Perubahan atas UU KPK.

Karena sudah sesuai UU, maka keriuhan terkait Dewan Pengawas KPK adalah domain pembentukan opini, bukan lagi soal UU. Opini bisa terbentuk jika ada “trial by the press” yang sangat masif. Itulah kenapa sekarang media juga terbelah ada yang selalu meramaikan penolakan dan sedikit yang menyampaikan hal terkait ketentuan legal atas UU yang berlaku.

Lihat tangkapan gambar placement di media terkait isu “Dewan Pengawas KPK” yang update 4 November 2019 ini

Jangan sampai ada narasi penolakan yang basiknya adalah hal terkait moral atau drama-drama receh, karena untuk isu ini yang paling tepat adalah pendekatan sistem. Pahami dulu sistem yang berlaku dan perundangannya, kemudian sampaikan berdasarkan hal tersebut. Jangan ada lagi framing “KPK dilemahkan” padahal OTT KPK tetap ada.

Ketika lembaga superbody menolak adanya dewan pengawas, maka cocoknya di Korea Utara bukan disini.

Aku Cingkrang Kepadamu dengan Segenap Jiwaku

Identitas adalah satu hal yang sangat penting di masyarakat plural seperti di Indonesia ini. Bahkan istilah “unity in diversity” yang sangat terkenal di era digital ini juga inspirasinya dari Bhinneka Tunggal Ika. Beragam tapi bersatu, atau bahasa lainnya perbedaan adalah sebuah kekuatan.

Sehingga di Indonesia ini ribuan perbedaan identitas adalah hal yang sudah lumrah, biasa saja dan beginilah hidup berkarakter kebhinekaan. Sampai tiba masanya ada pihak yang mengagungkan identitas diatas karakter itu sendiri.

Bagaimana sebuah identitas bisa merangsek masuk menjadi sebuah karakter, dan akhirnya membangun sebuah kelas sosial di masyarakat? Karena ada pihak yang memanfaatkan identitas tersebut menjadi sebuah representasi sikap dan tindakan. Paling sederhana adalah image relijius: Pakai gamis sudah pasti alim, jidat hitam pasti pasti ahli kitab, celana cingkrang ahli surga.

Hal itu tertanam di Masyarakat Indonesia yang toleran dan permisif atas perbedaan identitas.

Masalah timbul karena ada pihak yang ingin memanfaatkan image relijius tersebut untuk kepentingan mereka dari sisi ideologi, politik, kekuasaan dll. Manifesto tentang kesamaan nasib dengan belahan dunia lain juga dijadikan sarana, Afghanistan adalah base camp radikalisme dan terorisme terbesar yang diawali dari politik identitas.

Jika ingin menegakkan Islam dengan kaffah maka lakukanlah jihad dan lawan, karena yang beda dengan jihadis ini artinya boleh dihancurkan dan darahnya halal ditumpahkan. Maka simbol diatas dipakai untuk melegitimasi tindakan intoleran, radikal dan terorisme.

Mari kita lihat Indonesia, kapan radikalisme bertopeng agama ini dimulai dan dimana saja mereka berkembang. Ini ceritanya lumayan panjang, karena awalnya mereka hanya ingin Indonesia menjadi Negara Islam sejak 7 Agustus 1949 (lihat gambar)

Ditumpas habis oleh TNI gerakan DI/TII di Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Jawa Tengah dan Aceh. Ingin menegakkan Negara Islam adalah pelanggaran hukum berat, bukan Islamnya ya jangan salah nanti digoreng. Mendirikan negara disebuah negara berdaulat adalah makar dan harus ditumpas habis.

Kemudian DI/TII insap dan melebur di masyarakat dengan ikut berpolitik melalui Masyumi saat itu. Akhirnya Masyumi dibubarkan Pemerintah karena akan memberontak lagi. Apakah selesai sampai disini keinginan makar dengan topeng Islam ini?

Orde baru merepresi semua anasir yang berpotensi makar dengan sangat keras, bahkan saking kerasnya sering salah sikat. Banyak Ulama yang benar-benar hanya memberikan kajian dan tausyiah dakwah ikut disikat Orba, operasi Naga Hijau misalnya dan masih banyak lagi yang salah sikat.

Era Reformasi adalah sebuah era dimana keterbukaan dan kebebasan berekspresi menjadi nafas utama Indonesia sebagai bangsa merdeka. Namun hal itu dimanfaatkan oleh anasir perusuh untuk berjuang kembali untuk makar, dengan dalih penegakan syariah.

Jika kita bicara terorisme, maka akar utamanya adalah intoleransi karena terorisme butuh bahan bakar yang sangat banyak untuk membakar Negeri ini. Jika ditilik basis intoleransi subur di daerah-daerah yang indeks demokrasinya rendah dan daerah tersebut HTI berkembang pesat. Ini datanya: Komoditifikasi Intoleransi.

Jadi sebenarnya sangat mudah bagi Pemerintah jika mau “nyikat” radikalisme, datanya lengkap dan petanya jelas sekali. Dimana ada HTI tumbuh subur, maka disitulah bensin untuk aksi terorisme sudah tersedia dengan melimpah.

Jangan cuma nyikat urusan celana cingkrang saja kenceng, yang substansial adalah nyikat anasir HTI sampai ke akar-akarnya. Karena cingkrangnya celana belum tentu berbanding lurus dengan radikalisme.

Momok bagi Teroris ini adalah Sosok Penyayang Ibu

Idham Azis adalah seorang Jenderal Polisi yang hampir tidak pernah ketahuan jejaknya, mirip seperti Tito Karnavian sebelum jadi Kapolri. Kiprahnya sangat senyap dari pemberitaan, namun Tito adalah Kapolri yang sangat brilian dan mengubah citra Polisi dengan positioning “Polisi Promoter”

Tito menyisir internal Kepolisian dengan sangat “radikal” Polisi berbenah dan terlihat pada index kepuasan publik terkait pelayanan Polisi. Yang dulu image Polisi sangat negatif dan tidak bisa dipercaya, berhasil menanjak keatas menjadi satu aparatur Negara yang tingkat kepercayaannya tinggi diatas.

Idham Azis adalah sosok yang menarik, seperti viral di medsos bagaimana takzim dia pada Ibundanya dan juga sangat menyayangi keluarganya. Bahkan anak Idham Azis yang ini: Cerita Idham Azis Sukses Antar Anak Langganan Juara Olimpiade Matematika Internasional silakan dibaca dan dijamin takjub.

Kita ini terbiasa menerima “hero” di medsos, untuk kali ini kita agak kesulitan mencari rekam jejaknya karena memang sangat minim. Pekerja senyap segudang prestasi dan sangat menyayangi keluarganya.

Saat bertugas di Kepolisian, Idham Azis adalah partner dan kepercayaan Tito Karnavian dalam semua operasi yang dijalankan oleh Densus 88. Segudang kasus besar terorisme seperti Bom Bali, Dr Azahari, Noordin M Top sampai dengan menangkap Tommy Soeharto dalam kasus pembunuhan disitu ada Idham Azis yang bekerja. Ini rekam jejaknya: Idham Azis, Berpengalaman Atasi Teroris hingga Tangkap Tommy Soeharto

Tidak terlalu berlebihan ketika Jokowi sendiri yang menunjuk dan memilih Idham Azis sebagai pengganti Tito Karnavian. Idham melenggang sebagai calon tunggal calon Kapolri yang pada 30 Oktober 2019 disetujui oleh Komisi III DPR RI untuk menjadi Kapolri.

Yang menarik adalah, Idham Azis tidak pernah bisa dipisah dari ibundanya tercinta. Pindah kemanapun Ibunda selalu menemani. Idham sendiri punya alasan kuat untuk hal itu, Idham merasa lebih barokah ketika berangkat kerja mendapatkan restu dari Ibunda dan Istrinya yang selalu mendukung dia.

Bahkan ketika fit and proper test, tim dari Komisi III DPR RI cukup terpana ketika menanyakan peran istri untuk Idham Azis selama ini. Bisa dibaca disini: Komisi III DPR Tanyakan Peran Istri Calon Kapolri Komjen Idham Azis

Tetap sederhana dan sedikit “alergi” dengan sorotan kamera dari media, itulah sosok Kapolri kita yang baru. Yang sederhana tapi sangat ditakuti oleh anasir terorisme global dan juga kelompok radikal. Selamat bertugas Kapolri Idham Azis.

Wakil Menteri Mewakili Siapa?

Wakil Menteri adalah jabatan yang strategis, dan sudah ada sejak zaman Presiden SBY tapi tidak terlalu mencolok seperti saat ini. Dulu pemilihan dan pengumuman Menteri saja tidak menjadi berita alias biasa saja, sekarang sampai Wakil Menteri saja ramainya luar biasa. Mari kita telusuri apa apa saja yang menjadikan ada perubahan seheboh ini, bahkan bisa jadi obat anti ngambek.

Yang pertama adalah adanya kesadaran berpolitik dari masyarakat, dilihat dari gairah ketika Pilpres dimana partisipasi pemilih sudah sampai 81% pada 2019. Naik banyak dibanding 2014 yang hanya 70%, ini datanya. Sangat wajar jagat medsos juga sangat riuh dengan partisipasi masyarakat.

Buktinya adalah masyarakat sangat antusias dan aktif sampai dengan penetapan Wakil Menteri, walau bukan lagi ranah masyarakat karena prerogatif Presiden. Drama terkait Wamen sendiri sangat beragam dan menarik untuk diikuti. Mirip Pilpres, ada juga kubu A dan kubu B terkait hal ini.

Sekarang sudah terpilih dan ada 12 Wamen yang memperkuat Kabinet Indonesia Maju, selain ramai isunya ternyata ini juga Wamen terbanyak yang pernah ada. Jika dilihat dari fungsi apakah penting, tentu saja Presiden punya alasan kuat untuk menyetujui adanya Wamen. Jika dilihat dari sisi politik, hal ini juga menggembirakan karena Presiden menambah kuota pendukung masuk ke Pemerintahan.

Lepas dari itu semua, seberapa penting Wamen bagi pemerintahan Jokowi? Jika 80% Publik tahu dan paham rekam jejak Menteri Kabinet Indonesia Maju, maka Wamen ini kebalikannya dari Menteri. Saya sendiri tahu Wamen cuma 2 orang, selebihnya tidak tahu (ada juga yang tahu pas ada drama ngambek kemarin).

Dari semua Wamen sepertinya yang menarik untuk dibahas adalah Angela Tanoe Wamen Pariwisata dan Kreatif. Kenapa Angela menarik untuk dibahas? Menariknya adalah, inilah Kementerian yang isinya adalah 2 orang yang sangat tahu dan hidup di dunia komunikasi. Menterinya bos Net TV, Wamennya elit di MNC Group.

Wisnutama dan Angela adalah perpaduan unik dan pas, sesuai dengan Kementerian yang dibidani. Pariwisata adalah satu hal yang sangat erat dengan komunikasi, bahkan komunikasi-lah yang menjadi ujung tombak Pariwisata. Mau bukti? Berapa banyak diantara kita yang pernah ke Raja Ampat? Bandingkan dengan berapa banyak kita yang ingin ke Raja Ampat?

Nah itu direnungkan, pasti yang pernah kesana jauh lebih sedikit dibanding yang ingin kesana. Kemudian pertanyaan selanjutnya, kenapa ingin kesana? Jawabannya pasti karena disana sangat indah bla bla bla..

Tahu darimana kalau indah?

Jangan dijawab yang itu, cukup direnungkan saja sambil nabung karena kesana butuh biaya yang lumayan dibanding piknik ke Monas. Disitulah peran dari Wisnutama dan Angela, kolaborasi 2 orang yang saling mengisi dan paham dengan apa yang dia kerjakan. Tentu saja tidak semua Menteri dan Wamennya bisa seperti mereka, bisa saja kebetulan atau apapun itu.

Tapi.. Sehari setelah pelantikan Wamen, Angela nampak ikut rapat percepatan Proyek Super Prioritas bersama Kemen PUPR, Kemenhub, Kemen BUMN untuk segera gaspol proyek baru. Lincahnya Angela mengimbangi Wisnutama ini akan menjadi sesuatu yang disebut kinerja.

Memang harus demikian gunanya Wamen dalam mengelaborasi Menteri dan proyek yang akan dikerjakan. Jangan sampai Kementerian Pertahanan tapi Menterinya tidak diketahui upacara dimana pas Hari Sumpah Pemuda. Kasian Wamennya dong Pak!

Jadi disitulah fungsi Wamen, bukan sekedar mewakili Menteri melainkan mewakili kepentingan yang bernama Visi Indonesia Maju. Jadi, jangan ada lagi ngambek-ambekan karena kerja kalian ini untuk Indonesia bukan cuma gaya-gayaan jadi pejabat.

At Tawazun… Kredo Holisktik Kaum Sarungan

Radikal adalah sebuah keharusan, ketika itu dimaknai sebagai wujud cinta kasih untuk sesama jalma kadunyan dengan cita cita svargaloka.

Santri adalah insan yang originnya tidak akan pernah mencapai tahapan radikal kecuali tentang cinta. Tidak ada yang lebih mengakar dari cinta, untuk Santri yang dididik di Pesantren-Pesantren NU. Kenapa?

Santri adalah insan yang tidak pernah berhenti untuk belajar karena hausnya ilmu hingga percaya bahwa kebodohan adalah abadi, oleh sebab itu pembelajaran harus sampai mati. Mengkosongkan gelas pada level paling kosong adalah nafas Santri, hingga samudera ilmu yang dibagikan para Kyai bisa terus memenuhi hati para Santri.

Deradikalisasi itu sangat mudah, di lingkungan Santri tentunya. Lingkungan wong-wong bodo yang sekedar untuk mengklaim kebenaran saja tidak akan pernah berani. Santri adalah “mundhi dawuh”, ketika Kyai ndwuhi A maka Santri akan lakukan A, demikian juga tentang hidup. Total bersandar hanya pada Kyai, jalannya jalan kasih sayang dan radikal dalam cinta kasih pada sesama.

Radikalisme tumbuh subur karena ada klaim kebenaran tanpa kontrol, tanpa parameter jelas kecuali hanya membaca yang tersurat plek njiplek tanpa tafsir yang akhirnya Kafaro-Yukaffiru-Kufron. Itupun masih ngeyel merasa paling benar, dilengkapi dengan gamis putih dan jenggot panjang maka semua tindakannya sudah benar mewakili Sang Khalik.

Radikalisme tumbuh subur karena kegagalan merespon makna, kalimat suci yang menjadi dasar hati dalam meradikalisasi cinta jadi hambar tanpa makna jadi topi, bendera dan stiker yang bisa dipesan lewat e commerce dengan sekali klik dan klik barang datang. Saya paling Islam kalian tidak patiyo Islam.

Dan pengampu jabatan woles-woles saja ketika lambang suci jadi legitimasi pembenaran atas apapun mau benar ataupun salah ya jadi benar wong sudah pake Ar-Royah dan Al-Liwa yang kadang lupa dibawa masuk ke kamar kecil untuk buang hajat. Suci ndasmu.

Deradikalisasi bukan dengan militer, sejarah mencatat militer pernah gagal ketika DI membentuk TII dan melakukan bughat. Ini bukan soal api dilawan dengan api lagi, melainkan tentang moderasi sebuah gerakan radikal yang menyusup di era digital dengan nyaru seolah paling dari semua yang paling paling.

Pesantren ajarkan tentang keseimbangan, karena cinta adalah tentang keseimbangan dan sudah ditimbang-timbang dengan matang. Bukan sekedar apa yang mewakili perasaanmu selalu paling benar, karena hal itu akan sangat rawan disesatkan.

Mari menjadi radikalis cinta dan welas asih bagi sesama, karena hanya dengan cara itu kita bisa hancurkan radikalisme. Jangan hentikan kami mengisi barak-barak kami dengan cinta kasih, karena pada waktunya nanti kami akan sebar dan tebarkan ini sampai kalian tertular dan Indonesia makin kuat dan perkasa diantara cinta kasih bagi sesama.