Pilpres 2019: Curut Khilafah Endgame

Pilpres telah usai, hasil sedang diolah dan Quick Count menunjukkan angka yang memenangkan pasangan Jokowi Ma’ruf Amin. Sebenarnya drama penolakan QC hanyalah sebuah usaha akhir dari team yang kalah, ingatan kita masih ingat perjuangan mereka di 2014 (Baca disini).

Tidak perlu dibahas lagi karena partai pendukung sudah mundur dan mulai menghitung kekuatan di 2019. Prabowo Sandi tinggal sejarah di Pilpres 2019 ini, walau mulut Prabowo berkata tidak percaya QC tapi jejak digital menunjukkan betapa galau dia dengan kondisi saat ini .

Pengakuan Prabowo pada QC yang baru 90% dan udah deklarasi. Orang ini hobinya deklarasi btw

Yang menjadi perhatian saat ini adalah efek dari gagalnya Prabowo dimana penumpang dari faksi Islamis atau lebih enak disebut Curut Khilafah dan banyak sekali manuver yang dilakukan. Elit mereka, Amien Rais adalah seorang yang masih menyisakan kecerdasannya, Amien baca data survey dll dimana sejak Desember 2018 Prabowo Sandi sudah tidak bisa ditolong untuk menang jika tanpa effort khusus. Andalan mereka adalah main isu agama.

Sebenarnya terjadi kolaborasi saling menunggang, ketika tidak mampu mengalahkan lawannya maka kalahkan wasitnya. 2 hari jelang Pilpres ada temuan menarik, dimana kecurangan sudah disiapkan secara rapih tapi apa daya, sistem di KPU mampu mendeteksi itu (Baca disini).

Urusan database dan sistem yang dipakai juga tidak perlu dibahas karena apapun usaha mereka mendelegetimasi KPU lewat “heker” sia-sia dan malah makan korban dari mereka sendiri wkwkwkwkwk….

Bodohnya sungguh murni, mereka menjalankan perintah hapus data wkwkwkwk…

Antisipasi atas serangan gagal, Amien Rais jauh hari sudah menebar isu “People Power” sejak 1 April 2019 (Baca disini). Narasi yang dibangun adalah revolusi, disini mulai seru dan kelihatan ada perpecahan 2 faksi kubu Prabowo Sandi yaitu partisan+relawan dan curut khilafah. Kita lihat satu persatu perpecahan itu terjadi yuk…

  1. Partai meninggalkan Prabowo Sandi pada saat Prabowo sibuk Deklarasi (Baca disini)
  2. Demokrat menolak aksi inkonstitusional dengan menarik mundur timnya di BPN (Baca disini)
  3. PKS terus menerus mengglorifikasi perolehan suaranya yang sangat tajam padahal itu hasil QC yang sama, yang digunakan untuk menyerang Jokowi Ma’ruf Amin (Baca disini)
  4. Gerindra menggunakan hasil QC Sumatera Barat untuk menyerang pasangan 01 (Baca disini)

Dan banyak berita sejenis, terjadi paradox fatal yang menunjukkan bahwa sebenarnya partisan+relawan Prabowo Sandi sudah berdamai dengan dirinya sendiri dan tahu diri kalo kalah. Mereka mulai fokus untuk urusan partai masing-masing dan rencana kerja di parlemen kedepan yang tentu saja lebih sulit dibanding 2014 karena koalisi Prabowo Sandi sekarang kursinya lebih kecil dibanding 2014. Koalisi partai Prabowo Hatta adalah mayoritas di parlemen, kalo sekarang mereka minoritas (Baca disini)

Narasi People Power Amien Rais adalah sebuah pertahanan akhir untuk memaksakan diri Prabowo Sandi harus menang (Supaya gerakan dia dan konco2nya tetap hidup, maka penguasanya harus dari mereka juga). Siapa Aktor intelektual kubu islamis ini selain Mbah Amien? Ya siapa lagi kalo bukan si yutuber Rizieq Shihab, yang dengan lantang mengajak revolusi menggulingkan Jokowi dan mengangkat Prabowo sebagai Presiden

wkwkwkwkwkwk…. liat ini gaes

Itu belum seberapa, jika kita pantau sehari setelah coblosan banyak sekali curut khilafah koar-koar tentang people power dan perebutan kekuasaan dengan rencana paksa. Paling gampang adalah ketik saja di semua pencarian yang ada di platform media sosial kalian, maka akan muncul berurutan: Eggy Sudjana, Bachtiar Nasir, Alumni 212, dan Ustad2 kardus model Maheer Thuwailiby dan Dus Nur dengan narasi sama: “Pilpres 2019 penuh kecurangan, dan harus ada people power untuk memenangkan Prabowo Sandi”

Justru Amien Rais yang belum terlihat bersuara terkait Pilpres, mungkin dia masih bingung mencari Hanum Rais yang tidak ada di Surat Suara Dapil kampung halamannya. Karena Hanum tidak maju dari situ wkwkwkwkwkwk….. Sengkuni sedang menyusun langkah cuci tangan ala Pontius Pilatus, karena efek kekalahan Prabowo ini yang paling cilakak nanti adalah faksi islamis yang sudah bersusah payah kerja sejak 2014 tapi gagal.

Bahwa Gerindra sendiri juga ragu dengan ajakan people power adalah sebuah fakta yang tak terbantahkan, baca disini.

Jadi, terkait dengan Pilpres 2019 ini dan pemutaran The Avengers: End Game, maka end game juga buat curut khilafah untuk main-main dengan konstitusi dan harus kembali lagi kerja di jalanan dan bikin sensasi lagi. Yang pasti, saat itu terjadi akan sangat seru karena rakyat sudah melek dengan semua permainan curut khilafah.

Belajarlah Nyali kepada Presiden Republik Terong Gosong

Era media sosial saat ini banyak sekali hal luar biasa yang bisa dijumpai dengan mengetik sebuah keyword tertentu, untuk semua isu ada sesuatu yang luar biasa. Luar biasa dalam semua konteks baik yang baik maupun yang buruk tentunya. Saking banyaknya hal luar biasa yang bisa dicapai dengan cara instant, tak sadar kualitas manusia sekarang ini miskin dengan kompetensi alias macan kertas.

Ada hal menarik terkait kemajuan zaman dan kemudahan informasi yang terdistribusi dengan sangat cepat, terutama kalo pake tehnik “potong konten” dan taburkan bumbu fitnah, itu seru dan makan korbannya juga lumayan banyak mulai dari Ahok yang kena pasal penistaan agama, sampai kasus Meliana yang dibui 18 bulan karena protes volume toa masjid. Sedangkan perusak rumah dia dan perusak vihara karena merasa terhina agamanya karena protes itu hukumannya cuma 1 – 2 bulan.

Ada 1 sosok yang luar biasa, seorang Pejabat Negara, Kyai Karismatik, Ulama yang juga pejabat tinggi di PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau akrab dipanggil Gus Yahya Presiden Republik Terong Gosong (berdiri jauh lebih lama dibanding Republik Kertanegara yang sedang viral). Gus Yahya adalah seorang pembaharu yang tidak kenal kompromi menye-menye, dan tidak peduli dengan cibiran (benar-benar tidak dipedulikan) alias cuek.

Hal yang paling diingat adalah kampanye Gus Yahya ke Israel yang dengan gamblang memberikan diskursus “Rahmah” yang mengundang kontroversi di seluruh penjuru bumi. Hujatan, pujian, fitnah, support dan semua sikap atas perjalanan blio menjadi hal yang sangat ramai dibicarakan dan mengundang banyak aksi, mulai penolakan sampai ancaman macam-macam. Seperti biasa, Gus Yahya tidak risau akan semua ancaman itu, bahkan blio tidak peduli dengan semua itu sedikitpun.

Yang menarik, semua simpul ribut itu karena sebaran informasi di media sosial melalui cuitan seorang jurnalis yang menginformasikan perjalanan Gus Yahya ke Israel dan direspon sangat cepat oleh mahluk PKS mulai dari level keset sampai dewan syuro PKS. Narasi komplit serangan dilancarkan pada Gus Yahya yang waktu itu membuat kami (Banser) yang di Indonesia siaga 1 karena Kyai kami diserang, bahkan ada yang beberapa orang yang dilaporkan oleh Banser ke Polda Metro atas UU ITE dan penghinaan pada Gus Yahya.

Ajakan damai Gus Yahya yang dibalut dengan kampanye “We Choose Rahmah” dijawab lantang oleh yang berseberangan dengan genderang perang. Yah walaupun cuma genderang kencang di media sosial saja, beberapa individu atau kelompok yang menyerang itu tidak tahu yang diperjuangkan Gus Yahya adalah untuk masyarakat Palestina, dan untuk perdamaian Dunia.

Gus Yahya tetap berjalan pada jalur yang blio yakini benar, jalur yang blio lanjutkan setelah Gus Dur, dan selalu membesarkan hati kita waktu itu dengan mengingat perjalanan Gus Dur ke Israel dalam misa damai yang sama. Bagi kami hal tersebut adalah sebuah kode kuat, bahkan Gus Dur saja mereka hina apalagi ini Gus Yahya, muridnya Gus Dur.

Langkah Gus Yahya ke Israel membuahkan hasil bagi perdamaian dunia, bahkan blio disambut terima Benjamin Netanyahu Perdana Menteri Israel. Tak berlangsung lama setelah Gus Yahya pulang, di Indonesia ditandatangani Seruan Nusantara di Jogjakarta yang dihadiri Pemuka Agama Dunia mengkampanyekan perdamaian dan penanggulangan penggunaan Agama untuk alasan perang apapun

Gagasan yang menjadi aksi melibatkan tokoh-tokoh agama segala penjuru dunia, untuk mengkampanyekan perdamaian dan dengan tegas menolak penggunaan agama untuk dasar melakukan kekerasan pada sesama ataupun alasan perang, karena agama pada hakikatnya adalah untuk menumbuhkan kasih sayang kepada sesama manusia. Gagasan besar yang sangat kontras dengan kondisi dunia terkini, dimana semua serba rasa agama.

Gambaran diatas adalah bagaimana seorang Gus Yahya Staquf berjuang diatas nilai kebenaran, runtut mulai konsep, diskursus sampai pada aksi nyata yang melibatkan dunia. Resikonya tentu beragam, tapi apalah arti itu semua ketika seluruh dunia ikut serta dalam gagasan dan aksi yang blio lakukan untuk menyebarkan Islam Rahmatan Lil Alamin. Jangankan blio, jangankan Gus Dur, bahkan Kanjeng Nabi juga mengalami semua halangan saat menyebarkan Islam yang ramah dan penuh cinta kasih.

Apakah berhenti sampai disana? Tidak, Gus Yahya tetap konsisten menebarkan Islam ramah dan welas asih sampai detik ini. 22 April 2019 Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan mengadakan Silaturahmi Nasional Tokoh Ahlussunnah Wal Jamaah dimana sebagai pembicara adalah Gus Yahya mewakili NU, Dr M Sa’ad mewakili Muhammadiyah dan Habib Hanif Alatas ketua FSI sayap FPI.

Ketika term “Rahmah” menjadi sebuah dasar, maka segala perbedaan akan lebur hilang dan menjadi satu nilai perjuangan Islam yang paling mendasar yaitu menjadi Rahmat bagi Seru Sekalian Alam. Ketika kasih sayang menjadi dasar, maka perbedaan hanyalah sebuah makanan ringan yang renyah dibicarakan di meja sambil menikmati kopi.

Dan, diantara segala nyali yang ada, nyali untuk menjadi pendamai adalah satu hal yang tidak semua orang bisa lakukan.

Saya dijaga Kaum Ansor dan Kanjeng Nabi Muhammad

1 Desember 2018 mendapatkan kabar Gus Rifqi Amany Elmoe bahwa tanggal 11 harus berangkat Umroh bersama Ketum Gus Yaqut Cholil Qoumas dan rombongan dari GP Ansor, hal yang sangat saya rindukan namun juga sangat terlalu cepat hingga 90% tidak mungkin. Kenapa? Saya tidak punya KTP dan tidak pernah urus KTP sejak satu kejadian dimana itu menghancurkan hidup saya dan juga terutama Ibuku tersayang hingga harus jual rumah dan keliling Muntilan cari utangan karena anaknya masuk bui di Semarang.

Tanggal 2 Desember saya pulang ke Muntilan, keyakinan saya cuma 1 bahwa apapun akan terjadi kalo memang terpilih menjadi tamu di Baitullah, tempat yang teramat suci. Keyakinan saya cuma 1 itu saja, yang lain “pikir keri”
Gus Rifqi membantu melalui Ketua PC Ansor Magelang supaya proses KTP, Rekomendasi dll berjalan lancar, alhamdulillah adik kelas saya Sahabat Lukman Bandar Helm adalah Kasatkoryon Banser Muntilan yang dari awal sampai jadi rekomendasi selalu mengawal proses tersebut.

Lancar? Lebih tepatnya dilancarkan oleh sang pengundang, minta rekomendasi di Kemenag terkait ijin untuk visa dan KTP saya kolom agamanya masih Kristen karena memang tidak pernah saya urus terkait rekam data ektp beberapa tahun lalu.
Bermodal tekad dan restu Ibu, saya ke Semarang untuk urus passport pada tanggal 4 Desember 2018 dibantu langsung oleh Sahabat Bagus Susanto Sorban, ditemani di Imigrasi Semarang. Ketika proses ternyata ada masalah, harus menunjukkan passport lama karena saya tercatat pernah bikin itu di Sidoarjo, passport itu hilang!

Lancar? Sekali lagi dilancarkan oleh sang pengundang, dibantu Gus Chabib Towus Ainul Yaqin yang remote semua kegiatan saya di Semarang dan dia ikuti harus jadi passpor katanya. Jadilah sebuah passport setelah sehari di Kantor Imigrasi Semarang.

Perjalanan ke Haramain
Singkat kisah, 11 Desember 2018 Siang kami berangkat bareng dengan rombongan Umroh dari Sorban Nusantara. Sampai Jeddah malam hari sekitar jam 11 malam waktu Jeddah dan harus melalui proses Imigrasi yang saya sebenernya sedikit ragu dan grogi karena apa? Tattoo.

Sepanjang perjalanan mulai pesawat taxi sampai kami turun, pikiran saya adalah bagaimana menghadapi petugas Imigrasi Bandara Jeddah yang konon serem itu. Sampailah giliran saya diperiksa, sekali lagi sang “Pengundang” memberikan kuasanya hingga ketika diperiksa dokumen dll petugasnya malah ketawa2 dan menyapa pake Bahasa Inggris padahal sebelumnya dia cuma pake bahasa Arab bahkan kadang gak sopan cuma pake bahasa2 isyarat ke Jamaah.

Tibalah saya dan rombongan untuk ambil Miqot karena dari Jeddah harus sudah berihram dan langsung melaksanakan Umroh setiba di Mekkah, ada keajaiban lagi ketika jelang mandi miqot dan saya agak kesulitan taroh barang2 karena tempat yang hanya berisi kamar mandi dan tempat wudhu. Saya dibantu petugas disana bahkan dibantu cara mengenakan kain ihram. Sambil dia liatin tattoo saya dan berkali2 mengucap Alhamdulillah, saya juga merinding dengernya.

Mekkah Al Mukharomah
Tanah Suci yang penuh dengan jamaah dari seluruh dunia, dengan berbagai latar belakang dan budaya Segala Bangsa dan cuma saya yang tattoan dan ketika berihram memang telanjang, kita telanjang dihadapan Allah SWT untuk menyintas banyak hal terkait Tauhid, Fiqih dan Tasawuf dalam sebuah perjalanan singkat yang dirindukan semu umat, jalan damai untuk bersimpuh dibawah kebesaran Sang Penguasa Alam.

Lancar? Disinilah tantangan ketelanjangan Manusia dengan apa yang dia yakini bersinergi dengan ikatan persaudaraan yang terkuat dimuka bumi ini terjadi.

Mekkah dan kesuciannya tentu saja justru sebuah tempat dengan goda terbesar untuk hawa nafsu manusia, setelah tahalul selesai Umroh, saya bersama Sahabat-Sahabat Ansor ngopi di lorong bawah Zam Zam tower dan ada anak kecil yang nunjuk2 saya sambil teriak “Haraaaamm… Haraaaam… Haraaaam…”

Bayangkan, di tanah suci dan di haram haramkan karena tattoo dan dilihatin ribuan orang? Saya takut?
Tidak sama sekali, saya terharu dengan Sahabat Sahabat Ansor yang menjaga saya, membarikade saya dan menghardik orang yang mengharam haramkan saya, ada Bib Mohammad Nuruzzaman, Mas Wibowo Prasetyo dan Affan Rozi yang membentengi saya dengan ikatan persaudaraan.

Cukup? Tidak gaes… satu pagi setelah Jamaah Subuh saya beli Es Krim dan yang jual juga sama ngatain “Haram… Haram…” dan benteng saya langsung bereaksi dengan menegur orang tersebut dengan bahasa Inggris campur Arab dikit menjelaskan ke kang eskrim itu, saya terharu nulis ini.

Cukup? Belum, besoknya kita city tour ke Arafah dan pagi2 udah dibikin emosi oleh sopir bis yang menanyakan bagaimana saya bisa umroh padahal tatoan?? Saya tidak akan layani karena buang energi dan ternyata Sahabat Asrory dari Ansor Surabaya sedang ngomelin sopir bis kami dengan menjelaskan satu dan banyak hal tentang niat ibadah dan tattoo, walau akhirnya sopir itu mendapatkan penjelasan gamblang dari Gus Towus dan malah mendoakan saya masuk surga dan dia yakin saya akan masuk surga dan dia sebut saya Jannat Than. Aneh ya? Gak ada sejam dari haram haramin orang trus jadi orang paling yakin kalo saya pasti masuk surga.

Saya sih aminkan saja doa doa baik tersebut.

Bukan itu intinya Sahabatku semua, yang terpenting adalah saya menjadi saksi bahwa kisah Kaum Ansor dan Muhajirin ketika hijrah Kanjeng Nabi Muhammad saya rasakan juga di Tanah Suci, mulai dari Panggilan yang saya yakini sampai dengan penjagaan dari Kaum Ansor untuk saya di Mekkah Al Mukkaromah itu benar-benar ada.

Saya berada di Organisasi yang didirikan oleh orang-orang Ikhlas, dan Gerakan Pemuda Ansor adalah terikatnya persaudaraan Ikhlas yang akan terus berkhidmah bagi Ulama dan NKRI.

​Saya yang berbangga hati menjadi kader Ansor dan Banser, semoga kita semua selalu diberikan kekuatan.

Saya Ateis

Namaku Jonathan, biasa dipanggil Jo, lahir di Muntilan, Magelang, kota kecil tempat Ulama besar lahir,  Kyai Nahrowi Dalhar, atau lebih mashur dipanggil Mbah Yai Dalhar, Watucongol, Muntilan. Waliyullah sekaligus salah satu Mursyid Thariqoh Syadziliyah, cucu dari panglima perang pangeran Dipenogoro, yakni Kyai Abdurrauf.

Aku, Jo kecil lahir dan besar dalam keluarga Kristen, namun keseharianku sangat “NU”, bermain bersama teman-teman muslim dan sering ikut acara-acara Khas NU, seperti tahlilan. Bahkan aku juga aktif di Kesenian Kubro Siswo yang notabene adalah milik NU, yang menceritakan kisah Resolusi Jihad Mbah Yai Hasyim Asy`ari.

Singkat cerita, tahun 2011-2012 (persisnya lupa) jelang Idul Adha aku mengucapkan 2 Kalimat Syahadat, dibimbing oleh Kyai Daerah LDII Sulawesi Tenggara.

Sebagai Mualaf dan tanpa adanya pendampingan dari Kyai, tentu merupakan hal yang sangat berat,  tak usah menjalankan Ubudiyah Islam lainnya, untuk menegakkan Sholat saja hal yang teramat sulit. Belum lagi ketika Sholat berjamaah, rendah diri ini luar biasa karena aku tattoan seluruh tubuh bahkan sampai kelihatan diluar-luar.

Aku goyah dan akhirnya skeptis bahkan meninggalkan Sholat dan akhirnya meninggalkan semuanya.

Masalah hidup yang pelik saat itu, dan sebuah harapan tentang Islam yang ada dikepalaku hilang sudah. Ada momentum yang menyebabkan aku jadi makin benci dengan “Islam”, ketika aku bersama beberapa teman dikeroyok gerombolan pengapling Surga saat acara bedah buku bersama Irshad Manji di LKiS Jogja. Isunya sama, Irshad Manji pro LGBT dan halal darahnya untuk ditumpahkan. Moment itu adalah titik puncak kebencianku pada Islam.

Soal itu, baca disini http://www.dianparamita.com/blog/kronologi-penyerangan-irshad-manji-lkis-jogja

Sejak saat itu yang muncul diotakku adalah harus melawan dan berada disisi masyarakat marjinal yang tertekan dan dipersekusi. Temanku banyak sekali dari komunitas LGBT Ahmadiah dan Syiah di Jogja yang selalu ditekan untuk diusir bahkan diancam akan dibakar.

Beberapa aksi melawan mereka itulah yang mempertemukan aku dengan seorang bernama Rio Ramabaskara, pengacara yang aku kagumi ketika mengadvokasi napi cebongan yang dibantai oknum TNI.

Agustus 2017 sahabat dan seniorku di Yayasan GSI (gardasatwaindonesia.org) , yang kita dirikan untuk urus Anjing dan Kucing jalanan, Mas Guntur Romli, minta tolong untuk bantu bikin video untuk Ketua Umum GP Ansor H Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut) untuk acara Banser di Wonosobo. Kebetulan aku punya team yang bergerak di sinematografi, titik inilah yang merupakan lompatan besar di otak dan jiwaku.

Aku sampai hafal lagu-lagu yang selalu dinyanyikan oleh Sahabat Banser dimanapun! Manifesto Ke-Banseran yang selalu disampaikan Gus Yaqut juga aku sangat hafal karena ketika edit pidato Gus Yaqut selalu dengar berulang-ulang. Tentang Aswaja an Nahdliyah yang selalu membuatku otomatis berbisik NKRI Harga Mati, Pancasila Jaya, Nusantara Milik Kita…

Organisasi ini luar biasa, setiap berkegiatan meliput aku selalu teringat pada Almarhum Bapak dan Almarhum Mbah Wongso. 2 Banser yang ada dimasa kecilku selalu hadir ketika aku berkumpul bersama Sahabat Banser dimanapun, ketika meliput Ketum Gus Yaqut.

Kenal dengan Kasatkornas yang luarbiasa, kenal dengan banyak Instruktur Banser, Kasatkorwil, Kasatkorcab. Dan kenal dengan ribuan Sahabat Banser dilapangan maupun di dunia maya. Dan makin cinta dengan Banser itu tumbuh, ribuan Riyanto ada didepan mataku. Negeri ini akan selalu aman ketika ada Banser, itu isi otakku.

Beberapa Sahabat di PP GP Ansor memotivasiku untuk bergabung saja di Banser, toh sudah tahu dan paham, kemana-mana bareng dan makin tahu. Tapi belum pernah berani memutuskan karena masih galau dan lain hal.

16 Februari 2018 bulat tekadku. Aku ikut DTD Banser, lulus dan sah jadi Banser! Untuk Bapak dan Mbah Wongso yang aku hormati dan cintai.

​Aku ceritakan ke Sahabatku yang luarbiasa: Afif Fuad Saidi Banser Ansor Situbondo.

Sudah tayang disini https://afiffuads.wordpress.com/2018/02/20/kini-engkau-menjadi-sahabat-kami/

22 Januari 2019

Ada beberapa dari kita yang takut dengan perubahan, terutama perubahan usia yang makin hari makin tua. Kalo dicermati, alasan apasih yang menyebabkan kalian takut tua? 

​Ada yang takut karena kesempatan untuk membahagiakan orang yang paling disayang makin berkurang, kesempatan membesarkan anak makin berkurang, kesempatan menemani orangtua yang semakin lanjut usianya mungkin? Karena semakin menua biasanya hormon mempengaruhi perangai sehingga kita takut kalo ternyata tingkah dan omongan kita melukai hati orangtua kita.

Banyak sekali alasan untuk takut menua, padahal hidup ini berjalan kearah sana… menuju tua. Dan tua merupakan sunnatullah yang tidak bisa dicegah, karena manusia lahir, tumbuh dan mati. 

Aku mau cerita sedikit yang teringat dengan linimasa yang kualami dan tentu saja usia saat itu, visi saat itu, fakta saat itu dan konklusi dari semua kisah ini, bukan buat menginspirasi atau ngajari karena cuma cerita aja sambil menuhin blog biar kaya penulis beneran wkwkwkwk….

​Jadi, ketika umurku 24an kalo gak salah ingat, saat itu sudah menjabat di sebuah perusahaan swasta yang sangat berkembang pada masanya. Di usia itu jabatan dan kewenanganku udah se-karesidenan (itu luasnya se-plat nomor pada huruf depannya). Mumpung masih muda, pikiranku saat itu adalah ingin mengumpulkan uang sebanyak mungkin kemudian wiraswasta, saat itu aku sudah nikah dan punya anak. 

Tapi, rumah tanggaku tidak baik kondisinya karena ya salahku juga tidak pernah bisa memelihara sesuatu yang sudah diraih, meliar dan semaunya hingga yang ada di otakku saat itu adalah pencapaian hidupku sendiri (iya beneran diri sendiri padahal punya anak istri). Aku fikir kalo keluarga sudah dikasi uang maka semuanya akan beres dengan sendirinya, toh membangun keluarga itu sama seperti membangun koperasi dan semacamnya (fikiranku saat itu)

2010 keluargaku tidak bisa bertahan lagi, hingga anakku yang pertama tinggal bersama ibuku dan anak yang kedua tinggal bersama ibunya. 

Singkat cerita, aku gagal dalam hidup setelah 2010 dimana aku memutuskan keluar dari kerjaan padahal sudah sangat mapan saat itu. Sebagai generasi muda yang nekat dan cukup metal kuteruskan hidupku dengan semauku dan menata apapun yang kumau. Modalnya pesangon (PMTK), dana jamsostek dan juga duit tabungan gak seberapa. 2011 sampai 2014 adalah tahun paling berat di hidupku, dari berduit sampai sama sekali tidak pernah pegang duit sama sekali, dari bermobil sampai jalan kaki, dari capek kekenyangan karena punya segalanya sampai capek kelaparan dan gak ada yang bisa dimakan sama sekali.

Ceritanya begini:

2011 setelah resign, aku diminta pulang kampung oleh ibu supaya bisa ikut merawat anakku yang pertama tapi terulang lagi mental batu di kepala bahwa dikasi duit juga semuanya beres. Sampai pada satu titik dimana aku gak bisa kasi uang untuk ibu dan untuk siapapun juga alias bangkrut jatuh kere.

2013 dapat proyek pengadaan alat kesehatan sebuah RS Daerah, menang tender dan aku bagian pemenuhan item. Waktu itu item yang terpenuhi 99% dan ada 1 item yang harus kubeli di Semarang, deal ketemuan untuk ambil barang dan saking senengnya karena bayangan duit segepok didepan mata. 

Kadang Allah merencanakan satu hal besar dengan ujian yang besar juga, siang itu aku mengalami kecelakaan dengan korban jiwa seorang tukang sol sepatu yang sudah tua. Aku yang nabrak bapak yang sedang bekerja itu, blio meninggal saat mencari nafkah bagi keluarganya.

Aku ditahan di Semarang Utara, uang yang didepan mata tinggal mimpi dan aku harus menyelesaikan semuanya mulai urusan hukum sampai dengan santunan dan penguburan korban yang kutabrak. Ibuku adalah orang yang paling menderita saat itu, janda pensiunan yang terpaksa harus jual rumah dan juga keliling kota Muntilan untuk cari utangan supaya aku bebas dari tahanan, walau akhirnya aku harus kabur dari tahanan karena duit habis dan ibuku sudah habis-habisan demi aku. 

Permintaan ibu cuma 1: “Pulang nak, dampingi anakmu karena dia rindu bapaknya… jagoannya”

Aku cuma bisa menangis sebentar kemudian membesarkan hatiku sendiri untuk tegar sambil berjanji dalam hati “aku akan pulang ketika sudah berhasil jadi orang”

Tapi apa yang terjadi? Hidupku makin blangsak, narkoba dan minuman keras adalah solusi terbaik saat itu ketika sakit kepala melanda, sembuh kog pas mabok itu doang… setelahnya ya makin pusing dan pura-pura cool menghadapi hidup.

Hingga satu saat aku menyerah dengan semua, satu malam aku sholat dengan tujuan tobat. Oh iya, saat itu aku tinggal di kandang bebek jalan kaliurang KM 13 (temen2 FB banyak yang tahu tempat tinggalku saat itu). Dalam hening itu terlintas aku cium kaki ibu dan detik itu kuputuskan pulang dengan resiko apapun aku harus pulang ketemu ibu dan bertobat. 

Ibu kaget luar biasa ketika tahu aku pulang, tambah kaget karena aku pulang bawa 3 ekor anjing yang selalu menemaniku saat hidup di kandang bebek (villa pengasingan). Sambil elus kepalaku dan memastikan aku tidak dalam kondisi mabok (maklum aku dulu tiap detik selalu mabok): “Sana cuci kaki, tidur sama anakmu dan peluk dia untuk sebuah kejutan indah” 

Malam itu tak terlupakan, aku tidur di kasur beneran sambil dipijat kakiku oleh ibu dan dia selalu menyampaikan rasa syukurnya atas kepulanganku.

Jika waktu bisa diputar balik, ingin rasanya sejak resign 2 tahun lalu aku pulang pasti ceritanya akan beda. Tapi waktu tidak peduli itu, kita aja yang kadang sangat bodoh untuk menghargai segala kode alam dan juga nasehat orangtua terutama ibu.

Aku tidak kemana-mana dan nurut ibu sejak saat itu, tapi hal itu belum selesai karena ada hantu yang tiap hari datangi aku. Hantu itu bernama “Pak, aku sekolah sek ya?”, iya anakku yang pamitan berangkat sekolah dan aku gak bisa kasi uang saku karena emang gak punya apa-apa untuk saku. 

Sampai satu saat dapat solusi, aku kerja ikut teman SMP yang punya warung soto di Pasar Muntilan namanya Dhenni cucu Pak Lam Soto (terkenal se Muntilan). Kerjaanku adalah siapin tenda tiap siang karena warungnya bongkar pasang, dorong gerobak soto dari rumahnya sampe ke lapak di pasar, nimba air pake gerobak, cuci piring gelas dan malamnya bongkar tenda dan balikin semua ke rumah karena besok paginya lapak harus sudah bersih.

Gajiku waktu itu Rp 50ribu kalo warung pas rame, kalo pas hujan atau sepi gajiku adalah boleh bawa pulang nasi, lauk, gorengan dan jajanan warung sepuasnya, aku kerjakan itu kurang lebih 4 bulan dengan tujuan utama bisa kasi uang saku untuk anakku. Senang dan bahagia sekali saat itu, tiap malam anakku datang ke warung dan minta soto sambil tanya “Warung rame gak Pak?” 

Itu moment of truth yang datang tiap hari dan membuatku sungguh sangat bahagia, kerjaan ini berhasil membuatku beli hape dan aktif medsos lagi dengan hobi bikin cerita horor melalui akun twitter @tidvrberjalan yang selalu menghantui netizen pada masanya. Hobi ini yang merubah perjalanan hidupku, aku dikontrak oleh salah satu perusahaan telko untuk membuat konten horror di malam Jumat dan sangat ramai kontenku. 

Duit yang kuperoleh juga makin banyak, sampai akhirnya aku pamit sama Dhenni untuk ke Jakarta dan cari rejeki disana, Agustus 2014 aku hijrah di Jakarta sampai sekarang. Atas restu ibu, semua yang dulu kupunya dan hilang karena kesombonganku lambat laun dikembalikan atas izin Allah SWT hingga detik ini.